fnc muslimah
Ya Allah…


Ku terjatuh dan uluran rahmat-Mu menopang

Ku terjungkal dan kasih-Mu kan segera datang

Ku terkubur dalam kubangan dosa dan celah taubat-Mu terbentang



Ya Allah…

Dosaku seluas lautan

Dan ampun-Mu tak bertepi sejauh mata memandang



Salahku bertumpuk hingga bumi enggan menopang

Namun sayang-Mu selalu menjadi harapan



Khilafku tiap detak jantung mengalir

Namun ampun-Mu selalu hadir sekilat kecepatan cahaya menyambar



Ya Allah…

Tetasan buliran bening mengalir deras tak tersekat

Rintihan suara tangis lepas tak tertahan

Hambu-Mu kini meratap

Merayap menggapai pintau Taubat



Ya…Rabb, ighfirlana watub 'alaina Amin.

Label: 0 komentar |
fnc muslimah

Cela, cemooh, caci bersaudara selalu membuatnya hipertensi. Akan tetapi ia pun tak dapat bereaksi. Membuka mulut membalas hanya membuatnya dehidrasi. Biarlah ia menjauh dari peradaban bagai orang terekstradisi. Menyeruput nikmat kesendirian bak orang terkontaminasi.


“Kau perlu konsultasi,” ujar seorang kawan memberi rekomendasi.

“Kau hanya butuh motivasi,” timpal yang lain merevisi.

“Menurutku kau butuh rekreasi,” tukas seorang lain berpersuasi.

Tawaran terakhir ia sanggupi lantas masuk ke taksi. Melewati jalanan dengan rindang pepohonan usai reboisasi cukup memberinya sebuah sensasi. Hati dan pikirannya yang sempat kacau telah terreparasi. Goyah langkahnya usai sudah direnovasi. Rekreasi memberinya amunisi baru ibarat nasi bersambal terasi.

Semangatnya membara bagai baterai kosong yang usai terisi. Dalam semangat frekuensi tinggi, ia kembali beraksi. Berakselerasi, eksplorasi dan mengeksploitasi kemampuan yang diangugerahkan Tuhan tanpa materialisasi.

“Sesuatu akan indah pada waktunya.” Sebuah notifikasi dari seorang teman yang terkesan memberi garansi.

“Tak ada penggalan kalimat lain?” tanyanya sensi. Ia telanjur dibekap rasa tak percaya diri dan mungkin mulai tak percaya pada Tuhan karena imannya mengalami erosi.

“Percayalah, rejeki sudah diatur.” Lagi-lagi penggalan kalimat basi.

“Bagaimana kalau Tuhan mengatur aku tak mendapat rejeki?” tanyanya bertambah sensi.

“Tuhan punya seribu satu cara untuk mengantar rejekinya padamu,” jawab temannya dengan kepastian ekspresi.

Ia kembali mengalami transisi. Semangatnya pulih kembali usai melakukan refleksi. Berdasar berinstuisi, ia putuskan pindah jalur menjadi penulis fiksi. Ia percaya menulis bisa dijadikan profesi. Menulis novel, cerpen serta puisi.

Hari-harinya kini disibukkan dengan mencari inpirasi. Mereka-reka fantasi. Menjemput imajinasi demi sebuah karya fiksi. Ia menulis dengan visi misi. Karya-karyanya mengandung tendensi. Pula ia mengharamkan plagiasi. Entah mengapa karyanya belum juga dilirik redaksi.

Dunianya kini seolah tak lagi berotasi. Ruangnya tak lagi berventilasi. Kesedihannya telah terakumulasi. Kecewanya menjadi kompilasi. Terlalu sombong jika ia tak menangisi tragedi hidupnya yang berpita tragis dan berenda dramatisasi. Kemarin ia ditertawakan karena menolak tawaran ekstasi. Ah, ia hanya ingin merasai frustasinya dengan determinansi.

Ia telah frustasi. Dalam benaknya tak ada harapan yang mengisi. Bahkan ia mulai tak doyan nasi. Dari hari ke hari badannya kian terkorosi. Tak tampak lagi otot-otot besi.
Hanya ada wajah pasi yang menengadah ke langit malam memandang rasi bintang dengan sejuta ekspresi. Lantas ia mendadak menemu inspirasi. Mulailah ia menyusun narasi kisah semi fiksi tentang dirinya sendiri dengan dramatisasi di segala sisi.

Harapannya berangsur-anggsur kembali, bahkan dalam dua kali lipat porsi. Ah, akhirnya ia menyadari sebuah esensi. Bahwa hidup akan selalu diwarnai rentetan masalah yang seolah berkolaborasi. Itulah tendensi hidup yang akan membawa manusia menuju transisi pribadi yang lebih berkualiti. Sementara orang yang tak bermasalah hanyalah orang mati yang sudah saatnya dikremasi.***



*Lara Ahmad adalah nama pena dari Endang Sri Sulistiya. Menuntut Ilmu Administrasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Cerpennya beberapa kali dimuat di Solopos, Annida Online dan Serambi Indonesia. Buku-buku antologinya telah diterbitkan oleh berbagai penerbit indie.

Label: 0 komentar |
fnc muslimah

dikutip dari :eramuslim.com
Hmmm… kupandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu. Warnanya tak pudar walaupun telah sepuluh tahun ia tinggal di rak buku ruang tamuku. Lembarannya tak cacat sedikitpun walau sering kubaca. Dan satu kali dalam satu tahun aku memandangi takjub maharku itu seperti ini...


Suamiku baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Kusiapkan air hangat untuknya sore ini. Makanan dan minuman kesukaannya telah kuhidangkan di meja makan lebih awal. Sprei tempat tidur telah kuganti. Kordin telah kucuci dan kupasang lagi. Seluruh bagian rumah telah kubersihkan.

”Kok senyum aja sih dari tadi?” suamiku menegurku. Aku hanya bisa tertawa kecil. ”Nggak pa pa. Pingin sedekah aja. He he...”

Suamiku membalas seyumanku dan pergi mandi.

Saat ditutup, kuamati pintu kamar mandi itu... dan sekeliling rumah ini. Rumah kontrakan penuh kenangan. Sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik kami karena pemilik sebenarnya akan pindah ke luar kota dan menjualnya pada kami. Suamiku pun bekerja lembur akhir-akhir ini untuk melunasinya.

Malam ini aku dan suamiku menikmati makan malam sebelum isya. Kebetulan anak-anak sedang liburan di rumah neneknya. Rumah jadi terasa sepi.

Terdengar suara motor berderu melewati rumah kami sekali waktu. Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah rumah dan sesekali tawa mereka.

Dari seberang meja makan kupandangi suamiku itu. Baju koko telah dipakainya. Dia telah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak berubah, masih seperti itu... kalem. Hanya jenggotnya saja yang kian lebat. Hmmm... dia masih dengan pendiriannya. Subhanallah...

Pulang suamiku dari masjid, aku baru saja selesai mencuci piring.

”Abang baru inget. Sepuluh tahun lalu abang nikahin kamu ya, dek? Pantes dari tadi seyum aja. Ngerayain yang kayak gitu2 nggak level kan, dek?! Nah, mendingan pijetin abang nih, abang capek banget hari ini.”

Ha ha ha... masih. Dari dulu emang manja bapak ini.

Tapi tidak saat dia datang ke rumahku sepuluh tahun lalu. Aku hanya bisa mendengar percakapan hangat itu dari balik pintu kamarku. Ayahku meragukannya. Yaaah, aku rasa adalah hal yang wajar bila setiap orang tua ingin anaknya hidup berkecukupan. Dan yaaah, memang untuk hidup di jaman sekarang, pekerjaan suamiku yang tidak tetap mungkin tidak bisa mencukupi hidup kami nanti. Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi suamiku percaya, insya Allah, Allah akan memudahkannya.

Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan hari itu.

Aku hampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk tidak menjadi isteri seorang yang shalih seperti dia adalah suatu kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarku dengan terseyum dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku terlalu lama hingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah memberi pengertian pada ayahku dan akhirnya meyakinkan beliau.

Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena rumah yang dikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu itu, ya rumah ini. Selama seminggu itu dia sibuk sekali. Entah apa saja yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasa khawatir di wajahnya saat ia mengatakan padaku, ”Dek, di rumah itu... nggak ada apa-apanya.”

Ia menatapku sendu.

Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari keluarga yang cukup berada. Hanya saja mungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, aku juga tidak begitu mengerti.

Di tengah kekhawatirannya itu ku katakan padanya, ”Abang... asalkan ada ember biar adek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali biar adek bisa ngejemur, asal ada api biar adek bisa masak buat abang, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asal ada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam dan tempe, dan selang sehari kita shaum... insya Allah, itu bukan masalah bagi adek.”

Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh... aku jadi sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup kita nanti. Dan aku telah menyatakan kesiapanku... insya Allah, aku sanggup menghadapi apapun... bersamanya...

Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di sana... Subhanallah, ruang tamu mungil dengan perabotan terbuat dari rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasa kulihat di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan. Rak buku itu memang dibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu hobiku membaca buku. Wah, pantas saja aku tak melihat rak itu di rumah akhir-akhir ini.

Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya tersedia dua bangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan kita berdua saja. Di kamar tidur ternyata telah ada sebuah tempat tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruang kosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan masak hadiah dari ibuku dan ibu mertuaku. Di bagian belakang rumah itu ada kamar mandi. Di luarnya telah ada sapu ijuk dan sapu lidi plus tempat sampah. Di tempat mencuci telah ada ember dan gayung.

Semua jendela telah berkordin.

Belum sempat aku mengomentari rumah itu, suamiku berkata, ”Dek, abang lupa beli tali sama paku buat jemuran.”

Hi hi hi. Aku tertawa cekikikan. ”Adek kira rumahnya bener-bener kosong nggak ada apa-apanya.”

”Yaaah... maksud abang gak ada apa-apanya dibandingin rumah adek.”

Hi hi hi... abang.
Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti abang, yang sholih, yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di manapun kita tinggal, seperti apapun keadaanya, sekurang apapun fasilitasnya, asalkan

ada abang... hidupku udah lengkap.


(untuk pangeranku, datanglah pada ayahku dan jabatlah tangan beliau. Katakanlah dengan bangga ”Sir, your daughter is in a good hand, insya Allah.”)

Label: , 0 komentar |
fnc muslimah

Yaa اَللّهُ.., mungkin aku tidaklah sebermanfaat mentari..,


Tapi izinkan aku menjadi seikhlas mentari.., Yang terus memberikan sinarnya..,

Walau mungkin manusia mengutuki teriknya..!


Ƴαα..ŔÕϐϐ.., mungkin aku tidaklah seindah teratai..,

Namun izinkan aku menjadi seteguh teratai.., Yang istiqomah dalam keindahannya..,

Walau berada di tengah-tengah air yang berlumpur..!


Yaa Rahman.., izinkan aku menjadi sesejuk gerimis..,

Yang membasahi tanah yang kerontang.., membasuh rumput dan pepohonan..!


Yaa اَللّهُ.., mungkin aku tidaklah seberisi padi..,

Tapi izinkan aku menjadi se-tawadhu padi.., Yang semakin merunduk dalam keberisian..!


Yaa Rabbul'izzati.., kuatkan aku dalam kesabaran..,

Ditengah hujan yang mengguyur..,

Dalam hempaan angin yang menerpa..,

Dan gelegar guntur yang menciutkan hati..,

Hingga pelangi-Mu nampak di ketinggian langit..!

fnc muslimah

Dulu aku mengenalmu,



Sejak pertama komentar di statusmu,

Lalu kau balik komentar di statusku

Semua interaksi yang terkesan biasa

komentar yang semua biasa.


Suatu hari aku tersentak kaget,

Dengan statusmu yang sama dengan statusku,

Di wall mu dan di wall ku tertulis:


“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`” (QS. Al-Baqarah:75)


Aku langsung koment, bilang kalau status kita sama,

Kau tampak biasa, aku pun sama


Beberapa hari berikutnya

Di wall ku tertulis:


“Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)”


Kau langsung koment, status kita sama lagi,

Beberapa kali berikutnya begitu

Lagi dan lagi

Dan bukan hanya sekali dua kali

---------------------------------------------


Semakin lama kita semakin dekat

Interaksi seakan begitu padat

Dari situ aku mulai terpikat

Betapa hati ini seakan terikat

------------------------------------------


Yang begitu membuatku semakin kaget

Pada hari itu,

Handphoneku berdering, dari no. tanpa nama

Aku angkat…

Salam dari Suara di ujung sana terdengar

Suara seorang ibu.


“Assalamu’alaikum.. Nak”,

“wa’alaikumsalam Bu,”


“Koq, suaramu seperti seorang perempuan Nak?”

“Aku memang perempuan Bu,”


Belakangan baru aku ketahui,

Bahwa itu Ibumu,

Yang nyasar ingin menelponmu

Tapi malah sambung ke no.ku


No. HP kita ternyata hanya berbeda satu angka,

Dan itu membuat ibumu nyasar menelponku.


Tidak tahu, apakah ini hanya kebetulan semata?

-----------------------------------


Sejak itu, obrolan berlanjut via HP.

Bercanda,

Berkenalan,

Aktifitas apa?

Kuliah di mana?

Jurusan apa?

Semester berapa?

Dan lain-lain...


Lagi - lagi aku terkesima

Jurusan kita ternyata sama


Aku semakin Tak mengerti, apakah ini masih di anggap kebetulan semata?


---------------------------

Beberapa hari berselang

Kau mulai mengurangi ritme interaksi kita

Aku tidak paham

Kau pun mulai diam

--------------------------------


Dalam perjalananku pulang kampung waktu itu

Malam ku sendiri tak terlelap

Dalam kereta,

Aku mencoba membuka akunmu


Tak bisa terbuka,

Ternyata kau meremove ku

Aku menangis,

Aku pun risau,

Apakah salah ku?

Mencoba untuk tetap tenang dalam tidurku


Mimpi…mimpi…

Mimpi yang membuatku bangun seketika

Di tengah malam itu


Perasaanku semakin tak enak,

Gemetar tubuhku,

mengetik SMS untukmu,

ku awali menanyakan sujud mu malam ini?

Dan menanyakan

Apa alasanmu meremove akunku?


Ku tunggu balasanmu

Tak ada


Akupun mendesak mu

Tolong dibalas

Agar aku bisa tenang

Agar aku bisa kembali bermimpi

-----------------------------


Cahaya pagi mulai menyapa

Menembus sela-sela ruang yang menerpa

Kau membalas SMS itu,

Kau bilang tidak ada apa-apa


Kau meminta ku

Untuk SMS seperlunya

Tanpa canda,

Tanpa sia-sia,

Tanpa ada kata percuma,


Waktu pun ikut berbicara

Tidak juga di atas jam 9 malam,

Tidak dini hari,

Tidak usah mengingatkan Sujud malammu


Kau bilang takut menimbulkan fitnah

termasuk untuk menetralisir perasaan

dan untuk meremove ku dari fikiranmu.


Aku sepakat dengan syaratmu.

Aku pun menangis sejadi-jadinya,

Ternayata selama ini aku begitu,

-------------------


Semua Akun FB ku, kau blokir

No.HP mu kau ganti

Semua celah kau tutup rapat

Tak ada komunikasi

Tak ada lagi interaksi


Aku memilih sepi,

memilih sendiri,

Sepi dalam tangisan mata

Sendiri dalam linangan gerimis jiwa


Tangisan tak tertahankan

Di sepertiga malam terkahir

Aku memohon ampunan

Ya Ghofar

Ya Syahiid


Ampuni Hamba-Mu ini

Saksikanlah gemuruh pengharapan

Pengampunan atas segala dosa

--------------------------


Wahai kau yang ada disana

Kini Aku akan menikah


Di hari pernikahanku nanti

Aku ingin kau datang

Sebagai penenang hatiku

Bahwa kau telah bahagia


Jika semua berjalan sesuai rencanamu

Seharusnya kau sudah menikah di bulan Syawal tahun lalu

Di bulan sebelumnya aku pernah menunggu

Menuggu akan ada telepon lagi dari ibumu

Tapi bukan karena nyasar

Tapi menunggu kabar dari ibumu

Bahwa kau kan melamarku


Tapi ternyata tidak

Hampa

Kosong

Tak bertuan

----------------------

Aku tahu,

Aku memang tidak pantas untukmu

Aku yang pernah mengotori hatimu

Maafkan aku


Karena kau pernah bilang :

“jika menginginkan sesuatu yang suci, maka harus di tempuh dengan jalan yang suci pula”

Wahai kau yang ada disana

Aku memang tidak pantas untukmu

Terimakasih atas semua

Kau lebih pantas dengan yang lebih terjaga juga

----------------------------
Kini Aku akan menikah

Menikah dengan orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya

Semua aku serahkan pada kakak laki-laki tertuaku

Tanpa Ta’aruf

Tanpa Nazhar


Aku percaya pada kakakku untuk memilih yang terbaik untukku

Sejak kejadian itu

Aku putuskan semua interaksi dengan lawan jenis

Aku menjadi terlalu sensitif dengan mereka


Karena kau pernah bilang

“seorang yang mengaku dirinya hamba, tidak akan mengulangi kesalahan berulang-ulang kali”

-----------------------

Kini Aku Akan Menikah…

Maafkan aku menulis begini

Kau tak lagi mungkin membaca catatanku ini,

karena ternyata blokir lebih kejam dari remove

Dan memang bukan itu yang kuharapkan..


Ku hanya ingin mengingatkan pada yang lain,

sebagai pelajaran untuk semua

Just It..

---------------------------

KARENA AKU AKAN MENIKAH.!!
-----------selesai penukilan--------------
Komentar :

Inilah bahaya facebook dan internet secara umum. Hendaknya kita menjaga diri kita dari segala pintu fitnah.

Hati-hatilah, Karena..
Barangkali Kau bisa mendapatkan istri/suami dari sana...

Namun istri/suamimu menyimpan laki-laki/wanita lain di hatinya....

Yaitu laki-laki/wanita yang pernah ada di friendlist facebooknya.....


Maka, jika kau tidak ingin seperti itu...

Hendaknya kita pun juga menjaga diri kita....

Dengan tidak bermudah-mudahan dengan lawan jenis....

Jangan latih diri kita tuk mengkhianati kekasih kita....

Dengan FB-an pada laki-laki/wanita yang bukan mahram kita...


karena...

al-jazaa'u min jinsi al'amali....


hati-hatilah dengan kata-kata "bersayap"...

yang mungkin kita kontarkan....

atau akhwat/ikhwan lontarkan kepada kita...


Kata-kata saudara/i kita di atas adalah kata-kata "bersayap"....

yaitu kata-kata yang mengatakan "pergilah",

tetapi orang yang ditujunya akan membacanya "datanglah"...

Yang sebenarnya kita pun malu mambacanya....


Maka, seorang muslim yang baik adalah yang menjauhi fitnah yang merusak....

Ia tidak terlena dengan untaian kata-kata ...

tetapi terlena dengan kalamullah dan kalam nabi-Nya..

===============

By : Abu Muhammad Al-'Ashri, dg edited H44