fnc muslimah


Gemetar tanganku membuka lipatan kertas kumal itu.  Kertas impian Cahaya yang beberapa hari lalu sempat kuabaikan, namun begitu mengusik penasaran kini.  Rangkaian kalimat singkat beradu dengan kabut yang mengaburkan pandangan.  Sesak.
***
“Mak, sudah lihat kalender?”  Aku menghentikan gerakan tangan dari mencuci sayuran, menoleh sejenak ke sumber suara.  Di depan pintu dapur tampak Cahaya tengah mengulas senyum.
“Emang kita punya kalender?”  Kulanjutkan kembali aktivitas yang tertunda, menyiapkan bahan untuk dagangan pecel pagi ini.  Meski urung namun kujawab jua pertanyaan Aya, panggilan untuk Cahaya.
“Ada, Mak.  Tuh, di depan.”  Ah ya, aku ingat.  Satu karton bekas yang ditulisi dengan rangkaian angka dan hari beserta keterangan singkat kini terpajang di ruang depan.  Kalender hasil kreasi tangan Aya.  Mungkin bentuk protes atas sikapku yang enggan membeli kalender dikarenakan sayang akan rupiah.
“Sebentar lagi tanggal sembilan Desember.”  Kini Aya telah berdiri di sampingku.
“Terus?”  Aku pura-pura tak paham, membuat semangat di wajah Aya seketika pudar.  Padahal mana mungkin aku lupa tanggal lahir putri semata wayang yang kini harus seorang diri pula kubesarkan.  Tapi apa pentingnya sebuah hari lahir?  Ulang tahun Aya ke berapa yang pernah kurayakan?  Kulirik Aya memendam kecewa.
“Hhm..., Aya boleh minta sesuatu, Mak?”
“Tahun lalu sepatu baru.  Tahun sebelumnya boneka Barbie.  Kau tau kan bagaimana perjuangan Emak waktu itu?  Sekarang dagangan Emak nggak selaris dulu.  Sudahlah, jangan minta macam-macam.  Mending bantu Emak ulek bumbu pecel.”
“Tapi, Mak…”
“Kacangnya ada di bakul.  Mumpung libur kita buat pecel lebih banyak.”  Tanpa mempedulikan lagi permintaan Aya, aku berlalu, menyalakan kompor minyak tanah untuk merebus sayuran.
***
Kulirik jam untuk kali kesekian.  Matahari telah lama tenggelam, tapi sosok itu belum lagi menampakkan diri.  Berapa kali sudah kuingatkan untuk tak berlama-lama di luaran.  Sejak mengikuti kelas mengaji Bang Ambia yang memang gratis, Aya sering pulang terlambat.  Tak paham apa yang dia pelajari di sana.  Yang kutahu, Aya mulai sering mengulang bacaan Qur’an dengan suara kencang setiap malam.  Suatu ilmu yang pasti tak akan didapatkannya dariku.
Pada hari sekolah, Aya tak sempat membantu menyiapkan bumbu pecel di pagi hari.  Karena itulah aku selalu memintanya untuk mengulek bumbu malam hari.  Tapi sekarang, ke mana anak itu?  Ingin rasanya kususul ke surau tempat biasa Bang Ambia mengajar anak-anak mengaji. Demi mengusir kesal kulangkahkan kaki ke dapur, kembali menata perlengkapan berjualan.
“Assalamu’alaikum, Mak.”  Suara itu akhirnya datang juga.
“Ke mana saja?  Mak sudah bilang jangan malam-malam.  Apa saja kerja kau di surau sana?”  Kutatap Aya yang masih berbalut atasan mukena lusuhnya.
“Mengaji, Mak.  Mak mau ikut mengaji?  Nanti subuh kita ngaji bareng ya.”  Polos wajahnya membuat hatiku tak tega untuk menyemprotkan amarah.
“Mak tak sempat, banyak kerjaan.  Jangankan ngaji, sebelum subuh pun Mak sudah harus ke pasar beli sayur.  Sudahlah, cepat ulek bumbu sana.”  Aya bergegas melepas mukena dan menyimpannya di atas kursi makan.
Hari-hariku memang selalu sibuk, mencari nafkah untuk makan dan kebutuhan kami berdua.  Jangankan baju baru, biaya sekolah Aya saja sudah cukup rasanya menyesakkan ritme nafasku.  Tak sempat memikirkan masalah lain.  Bagiku yang penting aku dan Aya bisa bertahan, tanpa mengemis simpati dari tetangga sekitar.
“Hmm, mengenai impian Aya nanti di hari ulang tahun…”  Pecah kesunyian oleh suara seraknya.  Dari akhir kalimat yang menggantung aku dapat menerka bahwa ia ragu.  Kubiarkan saja kalimat itu mengambang, tanpa balasan.
“Aya sudah menuliskan satu impian di atas kertas.  Kalau bisa, ingin sekali rasanya impian Aya kali ini bisa terwujud.”  Merasa tak ada reaksi, ia meneruskan sendiri kalimatnya.
“Bu Husna bilang, kita boleh memiliki impian setinggi langit.  Bang Ambia juga mengatakan bahwa impian adalah sesuatu yang harus dimiliki.  Karena dengan impian kita memiliki harapan, dan dengan harapan kita bersemangat untuk melakukan usaha.”  Sudah pintar rupanya gadis kecilku ini.  Bilangan ke tujuh dalam usianya cukup membuat Aya bijak menyerap rangkaian petuah dari gurunya di sekolah.  Tapi tentu ia belum cukup usia untuk memahami realitas hidup, bahwa impian tak selamanya harus terpenuhi.  Ada keterbatasan yang memagari keinginan, hingga terkadang impian terpaksa harus dikubur dalam-dalam, lalu dilupakan untuk selamanya.  Apalah lagi impian di hari ulang tahun.  Sebuah impian yang hanya pantas dimiliki oleh anak berpunya.
“Nanti Mak baca ya.  Tepat tanggal sembilan Desember.”  Tanpa peduli ia terus saja berkicau.
“Mak tak janji.”  Singkat saja jawabanku.  Aya tampak memutar kepalanya, seakan mencari sesuatu.   
“Ah.  Mak lihat mukena yang tadi Aya kenakan?  Mukena itu…”  Ragu lagi kalimatnya.  Terputus sampai di sana.  Mungkin Aya malu karena mukenanya sudah lusuh.  Mukena yang didapatkannya atas sumbangan anak tetangga.  Pastilah Aya mengimpikan sebuah mukena baru, berenda strawberry seperti milik Larai, teman sepermainannya.  Atau mukena motif bunga warna-warni semacam punya Afika.
“Bagaimana nanti sajalah.  Minggu depan Mak harus bayar sewa rumah.  Sisa uang paling cukup untuk bayar sekolah dan makan.” 
“Mak tak punya mukena?”
“Mak punya pun sudah lusuh.  Tak terlalu penting punya yang baru.”  Sedikit kupelototkan mata ke arahnya.  Aku memang tak terlalu suka saat Aya mulai banyak bertanya.  Kulihat Aya kembali menunduk, menyembunyikan niat untuk mengutarakan satu keinginan.
***
“Ya ampun!  Dari mana saja, hah!  Jam segini baru pulang.  Kumal pula baju kau tu.  Abis ngapain?!”  Geram aku menarik tangan Aya yang jelang maghrib baru menampakkan diri.  Sepulang sekolah, entah kemana rupanya anak ini.
“Aya abis cari uang, Mak.”  Sedikit meringis suaranya, mungkin menahan sakit akibat tarikan tanganku tadi.
“Cari uang?!  Cari di mana?  Bukannya bantu Mak dagang, malah keluyuran.  Buat apa cari uang segala?”  Emosiku belum jua mereda.
“Untuk impian Aya di hari ulang tahun nanti.  Aya tadi ikut temen ngamen di Perapatan Pahlawan sana.”  Takut-takut suaranya.
“Ngamen?  Memang berapa kau dapat uang?”
“Lumayan, hari ini dapat tiga ribu tiga ratus.”  Aya mengeluarkan keresek hitam berisi recehan logam.  Sambil berjongkok, dihamparkannya recehan itu di atas lantai.”
“Lihat, Mak.  Banyak kan?”  Kini tampak rasa bangga pada nada suaranya.
“Sama siapa saja tadi?”
“Doni, Iyan, Eman, Yosi.”  Keempat teman yang juga anak kampung sini itu memang sudah biasa mengamen.  Aku melunak.  Entah apa yang diimpikan Aya hingga ia rela berpayah mencari tambahan uang.  Ada baiknya kubiarkan sajalah, daripada lelah mendengar rengekannya atas permintaan yang belum tentu juga sanggup kupenuhi.
“Ya sudah, mandi sana.  Jangan lupa nanti bantu Mak.”  Kutinggalkan Aya yang sibuk merapikan recehan hasil kerja kerasnya hari ini.
“Mak tak marah?”  Masih sempat kudengar suaranya.
“Asal jangan ngamen jam sekolah.  Mak tak mau kau jadi bolos gara-gara cari uang.” 
***
Seminggu lebih Aya sibuk dengan pekerjaan barunya.  Selalu setiap sore ia pulang dengan tubuh lelah bermandi keringat.  Tapi rona ceria di wajahnya menyiratkan bahwa ia tak akan menyerah, hingga impiannya dapat diraih.  Sempat kulihat keresek tempat recehan itu tampak semakin berat.  Perlahan mulai menyelinap rasa penasaran akan impian Aya tahun ini.  Kira-kira apalagi yang demikian diharapkannnya?  Besok tepat hari ulang tahun Aya, dan semua teka-teki itu akan segera terpecahkan.
“Assalamu’alaikum, Mak.”  Hari ini tumben Aya sudah berada di rumah saat hari masih terang.
“Wa’alaikumussalam.  Kau tak ngamen lagi?”  Kulihat Aya menjinjing keresek hitam lumayan besar yang dengan cepat disembunyikannya di belakang punggung.
“Uang Aya sudah mencukupi.  Aya baru saja membeli sesuatu, untuk mewujudkan impian Aya tahun ini.”  Senyum di wajahnya mengandung misteri.
“Apa isi keresek itu?”  Rasa penasaranku kian menjadi.  Namun Aya berjalan cepat menuju kamar.
“Besok saja, Mak, Aya kasih tau.  Aya mau ke tempat Bang Ambia.  Sudah lama Aya bolos gara-gara sibuk ngamen kemarin.”  Teriaknya dari dalam sana.
Aku menghela nafas.  Impian anak kecil terkadang memang sulit dipahami.  Satu hal yang menurut orang dewasa tak terlalu penting, bagi mereka justru membuat demam saat tak kunjung terpenuhi.  Meski aku dulu juga pernah mengalami masa kanak-kanak, tapi rasanya tak pernah punya mau ini itu.  Kubiarkan Aya sibuk dengan urusannya.  Pasti kini berbunga hatinya karena mampu mencapai apa yang sangat ingin ia wujudkan.  Diam-diam terselip bangga juga di dalam hatiku.
***
“Leha, cepatlah kau ke Rumah Sakit Santosa.  Ada yang bilang Aya tertabrak sepulang sekolah.”  Suara dari luar langsung dapat kukenali.  Tapi isi perkataannya tadi?  Bergegas kutinggalkan rebusan sayur yang baru setengah matang.
“Apa kau bilang?  Jangan becandalah.”  Sekadar untuk meyakinkan, kugoyang bahu Sarah, tetangga yang datang membawa berita.
“Aku serius.  Buat apa bercanda?”  Dari mimik wajahnya, aku sadar Sarah tidak sedang mengajak bergurau.  Dalam panik aku hanya mampu bolak-balik, keluar masuk rumah.  Bingung harus berbuat apa.
“Tenanglah.  Mudah-mudahan Aya tak kenapa-napa.  Sekarang Kau pergilah sama Bang Deri, dia sudah menyiapkan mobil.”  Seperti paham akan kebingungan yang berserakan dalam kepalaku, Sarah segera memberikan solusi.
“Tolong kau jaga rumah.  Tadi aku tak sempat matikan kompor di dapur.”  Setengah berlari masih kusempatkan meninggalkan pesan pada Sarah.  Aku bahkan lupa untuk berganti pakaian.  Sepanjang perjalanan seketika berkelebat bayangan tentang Aya.  Bagaimana tadi pagi ia masih menyunggingkan senyum bahagia.  Bahagia atas hari lahirnya.  Bahagia akan impiannya yang terwujud meski harus ia usahakan dengan tangannya sendiri.
Terbayang betapa kerasnya kehidupan kadang memaksaku berlaku keras juga dalam mendidiknya.  Berulang ia menampakkan keinginannya tentang satu impian, tapi tak pernah kugubris.  Aku semata tak ingin Aya menjadi manja.  Tak semua kemauan dapat selalu terpenuhi.  Hanya itu yang coba kutanamkan dalam prinsip hidupnya.  Ah, bodohnya, aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Aya.  Aku menangis, seakan baru menyadari bahwa Aya hanyalah anak kecil yang belum layak diperlakukan sama dengan orang dewasa.  Ia belum seharusnya merasakan kerasnya kehidupan. 
“Nanti pulang sekolah, Mak boleh tau impian Aya.  Aya tulis di kertas, ada di bawah bantal.  Kita baca sama-sama ya.”  Aku mengenang kalimat terakhir sebelum ia berangkat sekolah.  Kalimat yang bermakna biasa tadi pagi, namun menjelma pesan demikian dalam saat ini.  Sekuat tenaga kucoba buang jauh-jauh segala prasangka yang menyesakkan dada.  Aya pasti baik-baik saja.
    
***
Gundukan tanah itu masih basah, karena hujan tak henti mengguyur kampung sejak pagi.  Setiba di rumah yang mendadak menjadi demikian hampa, kupaksakan kaki menjenguk kamar Aya.  Pandanganku terarah pada satu benda hitam di samping bantal tidurnya.  Dengan sesak teramat dalam kucoba mencari satu kertas yang katanya diselipkan di bawah bantal. Entahlah masih berarti atau tidak impian itu kini.  Tapi rasa penasaran mendadak mengalahkan segala duka atas kenangan.  Bersama bayang kegigihan Aya, kutarik secarik kertas yang terlipat rapi.
Gemetar tanganku membuka lipatan kertas kumal itu.  Entah mengapa aku merasa ada amanat demikian penting yang ia selipkan dalam rangkaian kalimat singkat yang tertulis di atasnya.
“Mak, Aya boleh minta sesuatu?  Tapi janji Mak tak akan marah.  Aya takut, tapi sangat ingin.  Bang Ambia bilang, perempuan dewasa itu harus menggunakan kerudung.  Kalau tidak, tak akan mencium wanginya surga.  Itu artinya tak akan masuk surga.  Sedang di lain kesempatan, Bang Ambia juga bilang bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu.  Aya bingung, Mak.  Kalau Mak pun tak masuk surga, lalu di mana syurga Aya, yang katanya ada di telapak kaki Emak.  Aya sangat ingin tinggal di surga, Mak.  Impian Aya adalah menjadi penghuni surga.  Katanya di surga itu enak.  Apa yang kita mau tak perlu bersusah didapatkan.
Mak tak marah, kan?  Mak tak perlu repot cari kerudung.  Aya sudah beli satu.  Kerudung murah, tapi bagus.  Aya baru bisa beli satu, sebab uang yang terkumpul memang belum banyak.  Aya juga belum bisa belikan Mak mukena baru.  Tapi janji, nanti kalau Aya banyak uang, Aya beli mukena dan kerudung yang banyak. Sekali lagi, Mak tak marah kan?”
Cepat kubuka keresek hitam yang sedari kemarin disembunyikannya dariku.  Sebuah kerudung coklat muda dengan bordir daun di bagian atas kepala.  Kembali lemas rasanya seluruh persendian badan ini, sementara sudut mata kian deras menumpahkan butiran hangat.  Dalam bibir yang bergetar, aku berucap lirih, mencoba bicara seorang diri.  Ah tidak, aku sedang berbicara pada Aya.  Aku berbicara pada sosok yang dapat kupastikan bahagia dalam tidur panjangnya.
“Mak janji.  Impian Aya kali ini pasti terwujud.  Mak janji."
Selesai.


Source: Annida
Label: 0 komentar |
fnc muslimah
Sungguh menyakitkan bila murid yang aku sayang harus berkata seperti itu, entahlah mungkin memang aku yang salah tidak menempatkan emosi pada tempatnya, dalam satu hari pandangannya terhadapku berubah 180 derajat, dan itu hanya karena satu kesalahan saja, hanya karena aku tak mampu menahan emosiku, ia mencelaku, sungguh hancur dan lebur semua kasih sayangku dan kesenanganku padanya, bagi mereka tetap saja aku salah, celaan itu lebih-lebih diumumkan dimedia sosial yang berisi teman rekan kerja dan muridku yang lain, sungguh karena kejadian kemarin membuatku harus memutuskan hubungan pertemanan dengannya dimedia sosial itu, dan cukup bagiku untuk menerima pertemanan dari murid dimedia sosial, ini membuatku kapok dan tak mau berurusan lagi dengan hal-hal didunia maya itu, biar aku hidup didunia nyata saja dan lebih baik aku tak terlalu dekat dengan mereka seperti sebelumnya, biar saja batas itu tetap ada, batas antara guru dan murid. dulu ku pikir aku bisa menjadi teman atau bahkan sahabat mereka, nyatanya.... sekarang... hancur sudah semua. tidak ada orang yang mau dibenci begitu juga aku.
fnc muslimah

"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat bentuk tubuhmu & tidak pula melihat ketampananmu, tetapi Allah melihat hatimu." (HR.Muslim)

"Barangsiapa memberi, menolak, mencintai, membenci, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya." (HR.Abu Dawud)

"Yang muda mendahului memberi salam kepada yg tua, yg lewat kepada yg duduk, dan yg berjumlah sedikit kepada yg banyak." (HR.Bukhari)

"Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yg beraktifitas di pagi hari." (HR.Thabrani)

"Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah 'Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do'amu akan terkabul." (HR.Ahmad)

"Sesungguhnya orang mukmin dengan budi pekerti yang baik dapat mengejar derajat orang yang selalu berpuasa dan shalat malam." (HR.Abu Dawud)

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, neraka jahanam, fitnah kehidupan & setelah mati, dan dari fitnah dajjal." (HR.Bukhari)
Bersemangatlah atas hal-hal yg bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah." (HR.Muslim)

"Sesungguhnya dari sifat malu itu terdapat ketenangan, sesungguhnya dari sifat malu itu terdapat ketentraman." (HR.Bukhari)

"Sesungguhnya Allah SWT tidak akan melihat pada tubuh & rupamu, tetapi ia akan melihat kepada hatimu & amalmu (perbuatanmu)." (HR.Muslim)
Rasulullah SAW bersabda : "Tidaklah rahmat itu dicabut kecuali dari orang-orang yang celaka." (HR. Hakim)

"Obrolan yg baik adalah lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada obrolan yg buruk (tidak bermanfaat)." (HR.Hakim)

"Tiga perbuatan yg sangat baik yaitu, orang yg berdzikir kepada Allah, saling nasehat-menasihati, & menyantuni saudara2nya." (HR.Ad-Dailami)

"Sia-sialah pengabdian seorang kepada Allah apabila ia menganggap rendah sesama manusia." (Hazrat Inayat Khan)

"Siapa yang tdk pandai mensukuri nikmat yg sedikit maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yg banyak." (HR Musllim)

"Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yg belajar dan mengajarkan Al Quran." (HR Muslim).

"Sesungguhnya hari paling utama adlh Jum'at, perbanyaklah shalawat atasku pd hari itu, krn shalawatmu pasti disampaikan pdku." (HR.AbuDaud)

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua jum'at." (HR.Hakim)

"Perempuan yg menegakkan shalat 5 waktu, berpuasa Ramadhan, taat suami, akan masuk surga dari pintu mana saja dia suka." (HR.Bukhari)

"Lihatlah orang yang di bawahmu, dan jangan lihat orang di atasmu, agar engkau tidak meremehkan karunia Allah." (HR.Bukhari-Muslim)

"Rasulullah Saw: Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya." (HR.Thabrani)

"Peliharalah imanmu dgn perbnyk sedekah, bentengilah hartamu dgn keluarkan zakat, tolaklah bencana dgn berdoa pd Allah" (Ali bin Abi Thalib)

"Rasulullah ditanya peranan kedua orang tua. Beliau jawab: 'Mereka adlh (yg mnyebabkan) surgamu atau nerakamu'." (HR.Ibnu Majah

"Allah tidak menyukai tiga perkara yaitu; banyak bicara, banyak bertanya (yg berlebihan), serta menyia-nyiakan harta." (HR.Muslim)
Label: 0 komentar |
fnc muslimah


"Orang yang berakal akan mengatur kehidupannya di dunia, jika dia miskin maka dia akan bersungguh-sungguh dalam berusaha." (Ibnul Jauzi)

Rasulullah SAW bersabda : "Air zam-zam itu penyembuh segala penyakit." (HR. Ad-Dailami)

"Jika seseorang mendapat kekayaan dgn cara yg benar & dibelanjakan di jalan yg benar, maka akan jadi nikmat & penolong baginya." (Bukhari)

"Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar diberi ilmu yg bermanfaat, rezeki yg luas, dan amalan yg diterima." (HR.Ahmad)

Perbanyaklah istighfar dimanapun kalian berada, krn sesungguhnya kalian tdk mengetahui kapan turunnya ampunan Allah SWT." (Hasan Al-Bashri)

"Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari Kiamat)." (HR Baihaqi)

 "Dan sedekah itu menghapus kesalahan seumpama air dapat memadamkan api." (HR. Tirmidzi)

"Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah berbuat syirik." (HR.Ahmad)

"Ilmu adalah harta dalam kotak perbendaharaan, kunci pembukanya adalah bertanya." (Ali bin Abi Thalib)

"Barangsiapa mengharap keutamaan shalat malam, niscaya beban berat menjadi ringan baginya." (Ibnul Jauzi)

Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang berpenampilan seperti laki-laki. (Hadits Riwayat Bukhari)

"Ucapan yg baik merupakan sedekah & setiap langkah yg diayunkannya menuju sholat (berjamaah)merupakan sedekah." (HR Bukhari)

"Yang terbaik diantara kaum mu'minin itu ialah yang terbaik sifatnya terhadap kaum wanitanya." (HR.Tirmidzi)

"Barangsiapa yang berjalan dalam pencarian ilmu maka Allah SWT akan mudahkan jalannya ke surga."(HR. Ahmad)

"Saat yang paling dekat antara Allah dan hamba-Nya adalah di saat sujud, maka perbanyaklah doa pada waktu itu." (HR.Muslim)

 "Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran." (HR.Tirmidzi)

"Sesungguhnya lelaki yang paling dibenci oleh Allah ialah yang paling keras permusuhannya." (Shahih Muslim)

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang." (Muttafaqun 'alaih)

"Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang." (HR. Bukhari)

"Apabila seseorang tidak lagi mendoakan kedua orangtuanya maka akan terputus rezekinya." (HR Ad Dailami)

Barang siapa yg tidak mensyukuri yg sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yg banyak." (HR. Ahmad)

"Barangsiapa beriman pada Allah & hari akhir maka ia berbicara yg baik atau diam." (HR Bukhari)

"Berbaik sangka terhadap Allah termasuk ibadah yang baik." (HR. Abu Dawud)

"Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah." (HR. Imam Baihaqi)

"Bertakwalah kepada Allah,wahai manusia! Carilah rezeki secara baik, ambillah yg halal dan tinggalkan yg haram." (HR.Hakim).

"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (QS. Alam Nasyrah:8)

"Dan kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada orang tuanya." (Qs. Al-Ankabut:8)

Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam dan membangunkan istrinya utk shalat." (HR. Abu Dawud)

Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi." (HR. Abu Ya'la)

"Barangsiapa tidak (pernah) berdo'a kepada Allah maka Allah murka kepadanya." (HR. Ahmad)

"Tidak sempurna wudhu' sesorang yang tidak membaca basmallah." (HR. Ahmad)

Org yg paling berhak dpt syafaatku di hari Kiamat nanti adalah yg paling banyak shalawat kepadaku." (HR Tirmidzi)

"Alangkah baiknya orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tak mengurusi aib org lain." (HR Dailami)

"Allah melaknat orang yang menyogok dan yang disogok." (HR. Bukhari)

"Allah SWT akan memberikan jalan keluar kepada seseorang hamba jika ia mau menerima ilmu." (Umar bin Abdul Aziz)

Wasta'iinuu bishshabri washshalaati "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu." (QS.2:45)

"Sungguh Allah wajibkan kamu berlaku ihsan (dgn baik dan maksimal) dalam segala hal." (HR Muslim)

"Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik." (HR. Ahmad)

 "Dosa itu segala sesuatu yg menggelisahkan perasaanmu, dan yg engkau tidak suka bila dilihat orang lain." (HR.Muslim)

"Hasbunallah wa ni'mal wakiil." "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS.3:173)

"Barangsiapa berbuat baik kepadamu, balaslah dia, jika engkau tidak mampu, berdoalah untuknya." (HR.Baihaqi)

"Belajarlah kalian, karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ilmu kalian itu akan dibutuhkan." (Ibnu Mas'ud)

"Laki-laki sukses itu dapat dilihat dari dua hal. Pertama, siapa ibunya dan kedua, siapa istrinya." (Umar Bin Khattab)

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan & kehinaan. Dari menzalimi & dizalimi org lain." (HR.Abu Daud)

"Menyuruh seseorang kepada kebaikan adalah sedekah, melarangnya dari kemungkaran adalah sedekah." (HR.Muslim)

Ya Allah bantulah aku untuk mengingat Engkau, banyak bersyukur kepada-Mu, & beribadah kepada-Mu dengan baik." (HR.Abu Daud)

"Orang yang berakal akan mengatur kehidupannya di dunia, jika dia miskin maka dia akan bersungguh-sungguh dalam berusaha." (Ibnul Jauzi)

"Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan." (HR. Tirmidzi)

"Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yg bertaqwa, selalu merasa cukup, & berusaha menyembunyikan amalnya." (HR.Muslim)

"Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia, maka Allah akan melindunginya dr beban gangguan manusia." (HR.Ad-Dailami)
Label: 0 komentar |
fnc muslimah
Siapa aku?
hah.. lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri
jawabannya tetap saja sama
bahwa aku bukanlah siapa-siapa
atau lebih tepatnya belum menjadi apa-apa
tapi nanti.. besok.. atau dimasa yang akan datang
aku harus menjadi siapa-siapa
menjadi sosok yang lebih baik dan berguna
sekali lagi aku tanya
siapa aku?

Ok fix galau malam ini
tepatnya terpikirkan tentang sesuatu
Apa?
bicara soal benci
atau lebih tepatnya tidak suka
kali ini aku terjebak dengan pemikiranku sendiri
aku berpikir ada orang yang tidak suka padaku
yupz.. tidak suka pasti ada alasannya donk
lalu apa alasan itu orang tidak suka dengan kita?
mungkin sikap, prilaku, atau bicara
semua orang pernah punya kesalahan
tentu setuju karena tidak ada yang selalu benar
tapi yang aneh dari orang ini adalah bahwa ia tadinya sangat care
bahkan sangat terbuka, lebih tepatnya selalu ramah padaku
tapi kok belakangan ini? aneh?
ok please... saya stress mikirin ini
tanya kenapa?
sebab orang tersebut adalah boss saya
gimana nggak stress coba
dan sekarang apa yang harus dilakukan?
urgent..urgent.. galau tingkat duniaaaaaa
nggak biasanya aku begini, jadi labil dan curhat di blog
ok up to me kan??
kalau bos tiba-tiba tidak menganggap saya ada
bahkan apa yang saya lakukan dianggap buruk
otomatis introspeksi diri donk
dan ini? wajib njelimet jadi nggak betah di tempat kerja
bahkan seakan dunia berhenti begitu cepat
heran deh tanya hati "apa salah saya?"
mau diem salah.. ngoceh salah..
tanya langsung lebih salah "siapa saya?"
hanya satu yang saya pikirkan
nggak mau seperti ini....
keadaan ini dan situasi ini...
semoga semua kembali seperti semula amin...


fnc muslimah


Kita mungkin berkata kita percaya dg segala ketetapanNya, tetapi apabila datang dugaan-dugaan tertentu, ada yang akan coba bertindak seolah-olah tidak dapat menerima ketentuan Allah Subhanahu wa ta'aala. Firman-Nya di dalam surah Hud ayat 9,

“Dan demi sesungguhnya! Jika Kami rasakan manusia sesuatu pemberian rahmat dari Kami kemudian Kami tari
k balik pemberian itu daripadanya, mendapati dia amat berputus asa, lagi amat tidak bersyukur.”

Orang yang berusaha dengan niat untuk beramal akan “berasa lain” sekiranya mereka gagal mencapai matlamat. Mereka akan sentiasa berasa tenang walaupun didatangi kesusahan atau kesenangan. Mereka terdiri daripada golongan yang bahagia di dunia dan sedang menanti kebahagiaan di akhirat. Tiada satu perkara yang berlaku pada diri mereka yang dapat menggugat ketenangan itu.

Sebaliknya, mereka yang berusaha untuk kebahagiaan dunia mungkin akan merasa bahagia apabila matlamat tercapai. Namun sekiranya gagal, mereka akan berasa amat dukacita. Sekiranya mereka kehilangan sesuatu, mereka akan bermatian-matian untuk mempertahankan atau mendapatkannya semula. Sekiranya mereka gagal mendapatkannya semula, hati mereka akan berasa gelisah dan hidup mereka mula menderita. Lalu mereka menyalahkan orang lain dan akhirnya menyalahkan Tuhan.

Jika seseorang itu jodoh kita, dia tetap jodoh kita. Jika seseorang itu bukan jodoh kita, dia tetap bukan jodoh kita, walaupun apa pun yang kita lakukan, tidak ada gunanya memaksa diri mempertahankan. Dengan menyerahkan kepada ketentuan, lazimnya Tuhan akan membuka jalan-jalan yang tidak pernah kita fikirkan.

Mempercayai takdir bukan bermaksud berputus asa. Frasa “putus asa” sepatutnya tidak wujud di dalam kamus hidup seorang mukmin. Kita tidak boleh berputus asa dalam mengharapkan rahmat Allah.

Perbanyakkan doa untuk kebaikkan. Sebarang usaha perlu dijalankan dengan kaedah yang betul. Ada sesetengah orang yang ditinggalkan kekasih atau suami lalu cuba mendapatkan semula dengan kaedah mengumpat, memfitnah dan memburukkan orang lain.

Sebaliknya, sekiranya mereka berhenti seketika untuk berdoa dan bermuhasabah diri serta menerima ketentuannya, lebih banyak manfaat dapat diperolehi. Salah satu daripadanya adalah ketenangan, selanjutnya adalah iman. InsyaAllah.

Sumber FP : Kupilih Dermaga-Mu Untuk Pelabuhan Cintaku
fnc muslimah

 
“Aku menyerah…,” tatapanku lesu namun tidak dengan irama sepatu yang kian cepat saja meninggalkan ceruk-ceruk pada tanah basah di bawah kami.


Seseorang berjalan lebih cepat mendahului kami berdua.


“Kamu tidak boleh seperti itu, Zia…” Setelah melihat orang tadi, Safira langsung menggenggam tanganku dan mempercepat langkah lagi. Aku mengikuti irama kakinya. Kulihat jam di tanganku.


“Masih ingat kan apa yang aku katakan dua hari lalu?” Matanya lekat menatapku dan aku memang harus menjawab pertanyaan itu.


Aku mengangguk lesu. “Tapi rasanya sulit sekali, Fir.” Gelenganku mengikuti kemudian.Kami menyeberang. Hampir saja sebuah motor matic menyerempet. Di depan sudah ada gerbang kampus. Kami bergegas. Takut kalau-kalau Pak Wijayanto sudah berada di kelas menjelaskan tentang Teorema Limit. Teorema yang baru aku sadari betapa sesungguhnya tak sesederhana saat aku masih SMA. Ya, kupikir aku tidak akan bertemu lagi dengannya di semester lima ini. Tetapi sungguh yang kualami sekarang nyatanya adalah invers dari apa yang aku pikirkan. Pengembangan teorinya justru jauh lebih kompleks dari yang sudah-sudah.

Terkadang aku berpikir untuk menghindarinya saja—maksudku membatalkan mata kuliah ini. Analisis Real. Ia sungguh bagai sebuah negeri antah-berantah di mataku. Meski terdengar lebih baik dengan konsep generalisasinya—yang memang seperti itulah dunia Matematika. Tapi terus terang saja itu membuatku pening. Bahkan pernah terbersit pula olehku bahwa memasuki Fakultas MIPA dan memilih program studi Matematika di Universitas Mataram ini adalah hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Apalagi melihat hubunganku dengan Pak Wijayanto. Dekat, sungguh dekat. Begitu kata mereka, teman sekelasku mengolok-olok diriku. Padahal bagiku tidak sama sekali. Masalahnya aku sendiri juga heran mengapa Pak Wijayanto selalu mengincar aku untuk menjawab pertanyaannya yang tidak bisa kujawab. Oh, itu memalukan. Itu setara dengan kekejaman versi Zianita Wulandari.

Aku merutuk sendiri dalam diam. Bola mataku berputar hingga kelopak mata terasa pegal. Safira menarik tanganku agar berjalan lebih cepat lagi. Dan aku harus memulihkan semangat itu. Semangat yang dulu pernah sama-sama kami bangun.

“Aku tahu ini memang sulit. Tapi… selama semangat berusaha itu masih ada. Jalan akan terbuka juga meski satu saat nanti. Kita harus tetap berjuang, Zia. Ingat mimpi-mimpi kita!”

“Aku sudah berjuang, Fira… tapi apa? Aku tetap saja seperti ini. Aku tidak sama seperti dirimu yang memang pintar. Semakin lama aku di sini semakin terlihat bahwa aku sebenarnya hanya manusia bodoh. Aku tak bisa sepertimu. Ya Allah… siapakah aku ini? Makhluk idiot? Aku bingung, Fira. Aku lelah. Mimpi itu sangat jauh. Jauh, dan semakin menghilang.” Aku mendesah dan menekan kepala hingga jilbab biru manis di kepalaku ini mengusut.

Safira menghentikan langkahnya. Aku juga. Lalu sigap ia melangkah lagi dan kini tepat berdiri menghadapku. Digenggamnya pundakku dengan kuat, hingga membuatnya seakan-akan tegak kembali. Sementara itu, pintu kelas sudah tinggal 5 meter lagi dari tempat kami berdiri.

“Dengar,,” tatapnya lembut. “Allah tidak pernah salah menciptakan. Dia hanya senang melihat hamba-Nya berusaha keras. Kamu pernah gagal. Begitu juga aku. Setiap di antara kita, Allah tentukan jatah kegagalannya masing-masing. Allah ingin melihat kita berusaha.”

Begitulah Safira. Pembawaannya yang bijak selalu berhasil mem-pause segala keluh yang sebelumnya membawa lenguh dalam diriku. Ya! Hanya bisa mem-pause. Karena pada dasarnya akulah yang sangat gampang lelah dengan kata yang namanya perjuangan. Padahal aku mempunyai mimpi-mimpi yang sangat besar.

Lalu ia mengeluarkan sebuah note kecil dan merobeknya satu lembar. Ia tulis di atasnya sebuah kata. Dan melanjutkannya dengan beberapa—entah itu huruf atau kata lagi. Aku tidak terlalu memperhatikan tulisan itu. Lagipula Safira menulisnya dengan cepat dan segera melipat kertas kecil itu. Ia memberikan lipatan kertas itu padaku. Sembari aku menggenggam kertas itu. Ia pun menggenggam tanganku.

“Aku yakin kamu pasti mengerti apa yang kutulis ini,” Safira mengepalkan tangan. Sebuah kebiasaan umum jika memberikan semangat pada orang lain.

Pintu kelas yang tinggal lima meter lagi lebih mengusik pikiranku. Aku harus cepat-cepat masuk ke sana. Dan tentu saja Safira juga. Kertas ini kemudian masuk ke saku kanan gamisku.

“…maka mutlak f(x) min L kurang dari epsilon…” Sayup-sayup suara Pak Wijayanto keluar dari pintu itu. Aku dan Safira sudah terlambat 5 menit. Tak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

***

Terkhusus untuk mata kuliah yang diampu Pak Wijayanto. Aku selalu bete di setiap mata kuliahnya. Lama-lama aku semakin sebal dengan Pak Wijayanto. Takut, lebih tepatnya. Tak pernah sekalipun aku mendapatkan nilai di atas C. Ini meyebalkan. Mana bisa aku mengejar nilai-nilai Safira kalau begini. Apalagi, perlakuan Pak Wijayanto yang tak pernah absen membuatku malu di depan teman-teman. Seperti tadi pagi.

“Zianita… tolong beri saya alasan mengapa kita memilih 1/n sebagai δ -nya di pembuktian teorema ini?”

Kaget bukan main. Menghadapi pertanyaan tiba-tiba seperti itu selalu saja membuat detak di lubukku semakin berpacu. Ah… Pak, mengapa mesti aku?

“E…e…e… anu. Mmm…,” keras otakku berperas. Sebulir keringat terasa merayap di pelipisku. Lama waktu terdiam. Mereka semua memandang ke arahku. Seakan-akan aku satu-satunya tontonan yang akan bersiap meledakkan tawa mereka. Safira seperti berbisik padaku. Kegugupanku membuat bisik itu terdengar sangat kecil. Dan aku tak bisa mendengar apa pun.

Ini hal yang selalu berulang di setiap kuliah beliau. Betapapun… ini adalah pertanyaan yang timbul tadi malam saat aku mempelajari The Limit of Function karangan Robert G. Bartle. Dan seharusnya aku yang bertanya pada beliau. Tapi… tahulah aku. Tak pernah barang sekalipun aku berani bertanya, sama seperti yang dulu-dulu. Selalu rasa gemetar mendominasi dan mengalahkan keberanianku. Dan herannya, pertanyaan-pertanyaan mematikan Pak Wijayanto yang selalu mengarah padaku itu selalu persis dengan pertanyaan-pertanyaanku.

“Emm… itu… justru yang ingin saya tanyakan ke Bapak, sebenarnya,” sambil meringis menahan malu.

Dua-tiga orang mulai terlihat menahan sedak. Tapi… apakah aku memang harus malu? Ada yang aneh dengan jawabanku? Aku tidak tahu. Sebulir bening kembali terasa merayap di pelipisku. Yang aku rasakan adalah semacam… perasaan malu, harus sempurna, dan orang lain tak boleh melihat kelemahanku. Entahlah, terkadang aku bingung dengan diriku sendiri.

“Kalau begitu, apakah cluster point harus berada di dalam himpunan? Saya ingin mendengar pendapatmu!”

Matilah aku. Itu…

“Itu… juga hal yang…”

“Hal sama yang ingin kamu tanyakan pada saya?” Pak Wijayanto meneruskan kalimatku dengan gaya khasnya. Menurunkan kacamata sedikit sambil menundukkan kepala lalu mata bulatnya memandang bulat-bulat setiap anak didiknya yang juga bertingkah sama sepertiku.

Aku kikuk. sementara yang lain asyik tertawa.

“Saya khawatir apakah kamu benar-benar ingin menanyakannya karena ketertarikanmu di mata kuliah saya atau kamu memang tak pernah tahu apapun!”

Ahhh… kalimat itu. Seperti ada yang meleleh di hatiku. Ya, mungkin kau benar, Pak. Aku memang tak bisa apa-apa. Untuk itu aku ingin menyerah. Bisakah aku menyerah? Air mataku hampir saja keluar. Sampai ketika Safira mengeratkan jemarinya di sela-sela jemarikku. Zia, kuatkan hatimu.

“Safira… bagaimana denganmu?” Bapak itu mengalihkan pertanyaan tadi pada teman yang duduk di sebelahku.

Tentu saja… Safira menjawabnya dengan lancar tadi pagi.

Sekarang aku menatap lembaran kecil yang berada di atas meja belajarku. Ia berada di antara kedua siku tanganku. Telapak tanganku menopang wajah ini dan mataku memindai huruf demi huruf pada lembaran di bawahnya.

Sukses= K-n, n= 1,2,3,...K

Lama aku memikirkan maksud Safira menuliskan ini untukku. Tapi sekian detik kemudian aku tersenyum. Dasar anak Matematika! Mau memberi nasihat saja pakai rumus.

Ya, aku mengerti. K adalah jatah kegagalan kita dan n adalah jumlah kegagalan-kegagalan kita -->. Aku menafsirkannya seperti ini: Betapapun seringnya kita gagal maka pandanglah ia dengan positif. Sesungguhnya kita ini berjalan di atas takdir. Baik itu kesuksesan atau kegagalan, keduanya juga takdir. Setiap manusia mempunyai jatah kegagalan masing-masing. Maka semakin banyak kita mengalami kegagalan justru itu pertanda kesuksesan semakin dekat, karena kegagalan kita berkurang satu demi satu. Ah… Safira, aku menjadi semakin menyayangimu.

Aku berlari menarik pintu. Pergi ke rumah Safira dan ingin segera memeluk makhluk imut –yang jilbabnya tak imut itu.

***


Terkadang aku tiba-tiba saja suka memikirkan hal ini. Saat jalan sendirian pulang, saat duduk menatap nilai A yang tumben-tumbennya bersinar di lembar jawabanku, dan saat dalam kesendirian itulah aku memikirkan hal ini. Betapa bersyukurnya aku… karena Allah telah memberikan Safira sebagai sahabatku. Bagaimana tidak, ia selama ini teman bersama untuk berjuang melewati hari-hari melelahkan di kampus almamater biru ini. Berkutat dengan segala tugas-tugas. Berkubang dengan teorema-teorema. Belum lagi menghadapi serangan pertanyaan Pak Wijayanto. Karena Safira, aku masih tetap bertahan di sini. Tentu saja juga karena mimpi mimpiku—dan juga mimpi-mimpi Safira.

Aku ingin melanjutkan S2 ke Jepang. Orang-orang mungkin bertanya seperti juga orang tuaku. Mengapa mesti Jepang? Percaya atau tidak, semua karena aku sangat jatuh cinta dengan bunga sakura. Aku ingin melihatnya secara langsung ketika ia mekar dengan warna pink-nya. Dan ketika aku mulai mengenal Safira di tahun pertama kuliahku, ternyata ia juga memiliki cita-cita yang sama denganku. Bedanya, alasan mengapa ia memilih Jepang adalah karena hanya ingin membuktikan pada diri sendiri dan orangtuanya bahwa ia bisa, meski orang lain menganggapnya mustahil.

“Mengapa orang lain menganggapnya mustahil?” tanyaku ketika itu.

“Kau tahu? Ayahku seorang tukang sol sepatu. Sejak SMA, aku berkeliling kampung mencari orang yang bisa kucuci pakaiannya. Upah dari mencuci itulah yang mencukupi biaya sekolahku, membuat kami bisa makan tiap hari. Sedangkan mendapat ranking pun di SMA tidak pernah. Bahkan nilai ujian kelulusan kemarin pun aku yang terendah di antara teman-teman sekelas” jawabnya sambil tersenyum, memandang lurus rumput-rumput yang terhampar hijau di belakang gedung auditorium. Tempat itu adalah tempat favorit kami. Di sanalah biasanya kami mendiskusikan pelajaran atau sempat-sempatnya saling menceritakan segalanya tentang hidup kami.

Aku takjub memandangnya di sampingku. Melihat ada sedikit bening yang menyelimuti bola matanya, aku mulai terbawa oleh apa yang ia rasakan. Entah apa yang ia rasakan saat itu. tapi aku masih ingat bahwa ada getir juga di dadaku kala itu. Jika dibandingkan dengan aku, mungkin aku lebih beruntung karena pekerjaan orangtuaku lebih menyejahterakan dibandingkan Safira. Rankingku pun saat SMA tak pernah turun juga tak pernah naik. Stagnan di angka 4. Itu pun bukan angka yang istimewa. Tapi jika melihat Safira, itu tentu menandakan aku lebih baik daripadanya.

Ketika aku mengetahui bahwa IP-nya 3,40 waktu di semester satu, aku menjadi semakin takjub lagi. Sedangkan IP-ku saat itu hanya 2,79. Apalagi semakin lama Safira terlihat makin aktif di kelas. Entah itu bertanya atau menjawab serangan pertanyaan ala Pak Wijayanto. Ia selalu berhasil. Ia juga aktif di organisasi yang sama sepertiku. Tapi jabatan yang ia peroleh selalu di atasku. Intinya setiap bergantinya waktu aku melihatnya semakin lebih baik dan lebih baik lagi. Sedangkan aku? Sibuk di organisasi selalu menjadi alasan mengapa nilai-nilai akademisku tak pernah mengalami peningkatan. Padahal Safira tak kalah sibuknya denganku.

Tentu saja aku penasaran. Bagaimana bisa ia membagi waktu di tengah kegiatan organisasinya yang berjubel itu? Maka ketika aku menanyakan padanya mengapa kenyataan yang aku lihat berbeda dari yang pernah ia katakan dulu di awal, aku memperoleh jawaban yang saat itu juga mengubah hidupku.

“Mengetahui Ibu sudah tiada. Ayahku yang hanya tukang sol sepatu. Dan dengan sol sepatu itulah aku bisa tetap menyelesaikan belajarku di sekolah favorit. Sedang aku… tak pernah mempersembahkan nilai yang bagus untuk Ayahku, maka apalagi hal baik yang masih tersisa dariku? Tak ada satupun prestasi yang bisa kubanggakan. Sama saja aku ini adalah sampah. Apa kau ingin hidup seperti sampah, Zia?”

Spontan aku menggeleng. Siapa orang yang mau dianggap tidak memiliki eksistensi? Semua orang ingin diakui keberadaannya. Bukan dibuang dan tak diperhatikan seperti sampah. Aku yakin tak ada yang mau.

“Begitu juga denganku. Aku tak ingin menjadi sampah lagi…” Ia mengalihkan pandangannya dari rumput hijau ke wajahku. Tersenyum dan ada bening yang sepertinya memaksa keluar dari matanya.

“Hey… kamu menangis?” Pertanyaan yang sebetulnya tak perlu kulontarkan. Karena ya… lihat saja sebulir air itu kini sudah membentuk garis bening di pipinya. “Bukankah harusnya kamu bahagia, setelah apa yang kamu dapatkan ini?” tanyaku.

Ia masih tersenyum dengan air matanya dan kemudian melingkari leherku dengan lengannya. “Kalau dalam operasi matematika. Senyum ditambah airmata itu sama dengan tak hingga rasa syukur” ia melanjutkan.

Aku tertawa mendengarnya. Ia juga menambah tawa itu. Rumpu-rumput hijau itu pun menyaksikan. Mungkin mereka tersenyum juga mendengar bisik hatiku saat itu yang mengatakan…

Aku ingin menjadi seperti Safira.

***

Dua tahun setengah terasa berlalu begitu cepat. Besok adalah hari wisudaku dilaksanakan. Jika mengingat saat-saat pengujian skripsi beberapa waktu lalu, sungguh betapa ketegangan itu masih bisa kurasakan. Apalagi pak Wijayanto masuk di deretan penguji, saat itu. Tentu saja aku tak akan membiarkan hal-hal yang tak kuinginkan terjadi selama pengujian itu. Maka kupersiapkan semuanya dengan matang. Hasilnya, aku mampu melewati semua itu.

Kutarik dan hembuskan napas pelan-pelan. Aku mencoba mengingat kembali perjuangan setahun tanpa Safira. Apa kabar kau di sana, Safira? Safira memang sudah lulus setahun yang lalu. Ia lulus Cum Laude dengan IPK 3,90. Makhluk pintar itu menyelesaikan kuliahnya dengan tiga setengah tahun. Sedang aku empat setengah tahun. Selesai diwisuda, ia langsung berangkat ke Jakarta. Di sana ada JASSO (Japan Student Service Organization), tempat ia mengurus segala persiapan S2-nya. Dan tadi malam ia mengabariku bahwa ia telah berhasil mendapatkan beasiswa S2 dari pemerintah Jepang (Monbukagakusho) dan diterima di Department of Mathematical Informatics, University of Tokyo. Ah… Safira. You’re really something.

“Safira… kau tahu apa yang kurasakan sekarang?” Segera saat malam wisuda itu, kulayangkan pertanyaan pada Safira lewat telepon.

“Apa?” terdengar suaranya di seberang.

“Semacam perasaan benci…”

“Apa benci itu untukku?”

Aku tersenyum. “Bagaimana bisa aku membenci makhluk yang telah mengubah hidupku?” Dari balkon kamarku di lantai atas, tatapanku menerawang ke langit malam yang sedang memerah butiran air dengan pelan. Dingin sekali… tapi seperti yang telah kukatakan bahwa aku sangat senang menikmati hujan. Suasana ini sangat nyaman bagiku.

“Sepertinya kau akan lebih dulu merasakan musim semi yang dulu kita kejar bersama. Kuakui kau lebih cepat berlari. Aku sudah mengerahkan segala kemampuanku untuk bisa sama sepertimu. Tapi aku tetap tak bisa. Aku sedikit kecewa. Tidak denganmu, Safira. Tapi pada diriku sendiri yang tidak bisa menyamai langkahmu.” Aku melanjutkan kalimatku.

“Ayolah… kau masih saja tidak bersyukur. Bahkan dengan gelar cum laude-mu saat ini?” sambil mengeluarkan tawa ringannya ia menuduhku tak bersyukur begitu saja. Tapi bagaimanapun ia sepertinya benar juga.

“Hey, begini… dengarkan aku!” sedikit tegas ia memecahkan lamunanku. “Hidup itu indah seperti Teori Limit.”

“Sigh… kau memulai lagi nasihat rumusmu itu…”

“Oi… biarkan aku selesai bicara.”

“Baiklah”

“Dekat sedekat-dekatnya tapi tidak pernah sama. Itulah inti dari Teori Limit. Dalam hidup… ada titik-titik tertentu yang ingin kita capai. Titik-titik itu adalah ukuran kebaikan menurut versi kita masing-masing. Seperti ketika kita ingin mengenal dan merasakan kehadiran Allah lebih dekat. Maka semakin banyak kita mengamalkan nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam Asma’ul Husna-Nya, akan semakin besar kesanggupan kita untuk mengalami kehadiran-Nya. Akan semakin persis kita dengan Asma’ul Husna-Nya, tetapi tidak akan pernah menjadikan kita sebagai Tuhan.”

“Dan kau tahu, apa kesamaannya dengan kasusmu ini?” tanyanya di seberang.

Tetap aku terdiam. Berusaha mencerna dan menghubung-hubungkannya. Selama ini aku berjuang agar bisa sama seperti Safira. Melakukan usaha semaksimal mungkin, dari mengikuti gaya belajarnya, selalu minta diajari ini-itu, dan sebagainya hanya supaya aku bisa menyamai Safira. Dan pada akhirnya aku mendapatkan kebaikan lain yang berbeda dengan Safira. Salah satunya Cum Laude yang baru saja (meski telat) kudapatkan.

Ya. Aku dekat sedekat-dekatnya dengan Safira. Tapi tidak akan pernah menjadikanku sebagai Safira. Jika aku ngotot ingin sama persis. Maka itu menyalahi kodrat. Karena setiap kita diciptakan dengan keistimewaan masing-masing. Allah lebih tahu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

“Benar sekali…,” suara di seberang mengagetkanku.

“Hey… bagaimana kau bisa tahu? Aku belum mengatakan apa pun!”

“Haha… Aku kan punya telepati yang baik terhadap sahabatku yang satu ini.”

Aku tertawa. Masih saja tak percaya. “ Serius, Safira… bagaimana kau bisa tahu?”

Kembali ia tertawa. “Sebenarnya, aku hanya yakin kamu selalu bisa mengerti apa yang kumaksud.”

Dan malam ini… kurasakan suara hujan seperti suara tawa makhluk imut—yang jilbabnya tak imut itu.

=o0o=

Epilog:

Aku tak kan berhenti mengejarmu. Selama jiwa ini selalu menemukan apa yang mesti kulakukan untuk melewati setiap fase hidupku. Sakura… semangatmu seperti bersemayam dalam darahku. Aku tersenyum menyambut fase baru dalam hidupku yang lebih menantang lagi untuk kulewati. Sama seperti saat kau antusias ketika menyambut musim semi dengan mengerahkan tenagamu membuka tiap kelopakmu. Di sana… telah ada bersamamu sahabat terbaikku. Kalianlah mimpi-mimpiku.

sumber:annida-online

 
Label: 0 komentar |