Unknown



Setiap jengkal aksara yang bermukim dibaris sajakku
Memuji imaji berbalut asa dalam hela nafas abjadku
Mengumpama langit-langit berdecak asmaMu
Bergumul memori merangkul kata menyusun kalimat - kalimat lembut
Untukmu...
Puisiku...
.
Kau...adalah bagian dari sajak indahku
Serupa organ tubuh yang mempunyai kewajiban yang paling utama
Bahkan dikedalaman naskah yang paling dangkal sekalipun kau tokoh utamanya
Setiap abjad yang kau kecap adalah pena yang kupakai
Setiap gesture yang kau suguhkan adalah kertas yang perlu kulukis
Maka biarkan aku mencicipi dengan renyah tiap baitnya
Karena....
Tak ada kau tak kan pernah ada aksara
Tak ada kau tak kan pernah ada sajak
Karena kau puisiku
.
.
Catatan,12 september 2016

Unknown




Aku membaca pesan dari nada sumbang yang tampak merdu
"Disini tak lagi jadi rumahmu"
Seketika jarum tersuntik dilenganku
Merusak segala komponen nalarku
Aku tak dapat pulang
Rumah yang kutuju telah menutup pintunya
Haruskah aku tinggal dipinggir jalan?
Dikolong jembatan?
Dirumah-rumah kardus?
Di halte bus?
Langkahku mengajakku singgah kerumah Tuhan
Paling tidak pintuNya tak pernah tertutup untukku
Dan dekapanNya selalu hangat
Mengajarkanku bijak untuk menepak  jejak kaki kecil ini
Dan aku tak akan lagi mengharap rumahmu
.
.
Pondok Aren, 23 Juli 2016

Unknown


Bukan aku tak tahu
atau pura-pura tak tahu
apa yang akan aku temui dalam penantian ini
ketika aku kembali mencintaimu
sesungguhnya kakiku telah tiba dirumah pesakitan
mengerang diatas prahara cinta yang tak jua berakhir
titik temu dua hati yang ku iba-iba belum merunut abjad takdir
namun hatiku kukuh percaya
walau segalanya tampak tak nyata
kau... tempatku mengunyah sejarah penantian yang panjang
Dan yang pasti... aku selalu berjalan menujumu.
.
.
juni 2016