Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Unknown

Jangan pernah membenci seseorang yang telah melukakan hati kita. Jangan memberi harapan kepada yang belum pasti. Dan jangan menaruh harapan kepada yang belum tentu dimiliki.
.
“if ALLAH can take away something you never imagined losing,Then He can replace it with something you never imagined owning”
.
Kita merancang, Allah juga merancang..tetapi perancangan Allah lebih baik.. ❤️ Dibalik AIR MATA, pasti akan datang SENYUMAN
❤️ Dibalik LUKA, pasti akan datang PENYEMBUH
❤️ Dibalik KESABARAN, pasti akan datang KEBAHAGIAAN
❤️ Dibalik KESULITAN, pasti akan datang KEMUDAHAN
❤️ Dibalik KEBENCIAN, pasti akan datang KASIH SAYANG
.
Cinta itu milik Allah. Hari ini Dia tarik rasa cinta dari hatimu karena Dia ingin manusia sadar bahwa cinta kpd seseorang yg bukan halal bagimu lambat laun pastinya akan pudar dan kamu akan merasakan hambar dgnnya, tetapi cinta pada Yang Maha Esa,hatimu tidak akan pernah merasa hambar.
.
ISTIQAMAHLAH dalam memperbaiki diri ke arah yang LEBIH BAIK, utamakan PANDANGAN ALLAH daripada pandangan manusia..karena sebaik-baik PENILAIAN hanyalah datang dari Allah..♥ ALLAH menguji keikhlasan apabila bersendirian. ALLAH memberi kedewasaan apabila ditimpa masalah. ALLAH melatih kesabaran dlm kesakitan.
.
Dan ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yg kita sayang, kecuali menggantikannya dengan yg lebih baik..In Syaa Allaah 😊💕
.
.

Unknown

“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Risyad. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Risyad dengan keras. Risyad meringis.

Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Risyad berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Risyad menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak- isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Risyad ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik- adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik- adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukuli Risyad. Suamiku terduduk dikursi. Matanya kosong memandang kearah Risyad dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat rapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Risyad. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki - maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Risyad dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok yang rajin ya belajarnya”

“ Risyad udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Risyad memang engga pintar seperti uga dan citra. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Risyad, pintar kok. Risyadkan anak ayah. Ayah Risyad pintar tentu Risyad juga pintar. “

“ Risyad bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Risyad telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Uga yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Risyad mengigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Risyad. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Risyad  dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Risyad tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Risyad membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Risyad tidur ya." Katanya sayup - sayup. Suamiku hanya menghela nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Risyad adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sedang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Risyad. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Risyad lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Risyad pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Uga lahir., juga laki laki dan dua tahun setelah itu, Citra lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Risyad mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar- pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak -anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Risyad bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali- kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.

Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Risyad kepesantren. Aku tersentak.

“ Apa alasan Mas mengirim Risyad ke Pondok Pesantren “

“ Biar dia bisa dididik dengan benar”

“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”

“ Ini sudah keputusanku, Titik.

“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Risyad. Suamiku ingin memisahkan Risyad dari adik- adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Risyad akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.

Ketika Risyad mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nampak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.

Dia peluk aku “ Risyad engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.

Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Risyad berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Risyad.

Tak terasa Risyad kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. CITRA kelas 1 SMU dan Uga kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Risyad pulang kerumah, Risyad lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berdzikir sampai sholat subuh.

Ku purhatikan tahun demi tahun perubahan Risyad setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik- adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik- adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Risyad kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Risyad setelah lulus dari pondok. Risyadpun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.

Selama setahun setelah Risyad tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Risyad tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Risyad karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Risyad. Tapi Risyad tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Risyad dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Risyad sujud dikaki ku sambil berkata “ Risyad tidak mencuri , Bunda. Tidak, Bunda percayakan dengan Risyad. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Risyad dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Risyad. Alhamdulilah Risyad dan teman- temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Risyad dan kawan -kawan yang selalu berdzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Risyad dari rumah. Risyad tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Risyad belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Risyad“ Pesannya. Diapun memandang adiknya satu- satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Risyad Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Risyad dari rumah.

“ Mas,  Dimana Risyad akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Risyad.

“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.

***
Tak terasa sudah enam tahun Risyad pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Risyad berpindah -pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak -kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Citra kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Uga pun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Risyad, aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “

***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping - keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Citra malas untuk terus kuliah karena malu dengan teman- temannya. Uga juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak- anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.

Ridyadku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Citra dan Uga juga segera memeluk Risyad. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Risyad dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Risyad membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Risyad mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahun setelah itu, Citra kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Uga. Setiap maghrib dan subuh Risyad menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjamaah Risyad tak lupa duduk bersila dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“... Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah... Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Risyad berbicara , aku selalu menangis. Risyad yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubat. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Dzikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram.

Mahasuci Allah , terimakasih ...
Saat suamiku keluar dr hotel prodeo Risyad yg menjemput nya di depan pintu didampingi oleh kedua adiknya... aku melihat dari kejauhan...  Risyad langsung salim cium tangan ayahnya kemudian mereka berdua berpelukan erat...  Suamiku memandang cukup lama ke arah muka Risyad...  pasti kangen suamiku dengan anak sulung nya .... tidak terasa air mataku mengalir melihat momentum yg indah itu...  sejak kecil Risyad selalu merindukan pelukan ayahnya namun tidak pernah dia dapatkan....  hanya adik² nya yg sering di peluk ayahnya karena prestasi sekolahnya lebih baik..  beda dengan Risyad justru pukulan yg dia terima....

Banyak orang yang bergelar doctor,banyak orang yang berlimpah harta,banyak orang yang berpangkat tinggi NAMUN terasa berat untuk melangkahkan kakinya ke Masjid dan Mengaji

.
.

fnc muslimah
Sejenak membaca catatan Salim A. Fillah tentang Rasullullah membuat lidah saya kelu, tubuhpun seketika bergetar mengingat tentang kekasih Allah itu, seorang yang mengenalkan kita kepada islam, seorang yang mengenalkan kita kepada pencipta kita, ya... semua tentangnya... tentang rasul kita...

Karena tentangmu Ya RasulaLlah, ialah sebaik-baik kisah, seindah-indah cermin, semulia-mulia jalan, semurni-murni teladan.
Karena pada dirimu Ya RasulaLlah; sebening-bening hati, sejernih-jernih jiwa, sedalam-dalam ilmu, setepat-tepat fahaman.
Karena pada tindakmu Ya RasulaLlah; seikhlas-ikhlas niat, seihsan-ihsan amal, seteguh-teguh prinsip, sejelas-jelas ikatan.
Karena di tiap langkahmu Ya RasulaLlah; seagung agung akhlaq, seluhur-luhur budi, segenap-genap syukur, seutuh-utuh sabar.
Karena pada senarai hela nafasmu Ya RasulaLlah; ada sederu-deru dzikir, sesyahdu-syahdu khusyu’, setunduk-tunduk tawadhu’.
Karena detak jantungmu Ya RasulaLlah; segigih-gigih upaya, sesuci-suci doa, sepasrah-pasrah tawakkal, sebenar-benar taqwa.
Karena denyut nadimu Ya RasulaLlah; seberkah-berkah nafkah, setumpah-tumpah sedekah, setebar da’wah, senyata-nyata jihad.
Karena di deras darahmu Ya RasulaLlah; seruah-ruah perhatian, sedahsyat-dahsyat pengorbanan, sesejuk-sejuk kasih sayang.
Karena ucapanmu Ya RasulaLlah; sefasih-fasih kata, sedalam-dalam makna, sekokoh-kokoh hujjah, setampak-tampak pembuktian.
Karena pribadimulah Ya RasulaLlah; semesra-mesra suami, segagah-gagah ayah, semantap-mantap kakek, seakrab-akrab sahabat.
Karena engkaulah Ya RasulaLlah; setaat-taat hamba, serajin-rajin guru, seberani-berani panglima, sepuncak-puncak pemimpin.
Karena tapak hayatmu Ya RasulaLlah; sejelita-jelita hidup, selurus-lurus titian, seberat-berat liku, sewujud-wujud cinta.
Karena dalam sakarat Ya RasulaLlah, kau tegaskan cinta tuk kami; moga kau sambut di telaga, moga kau wasilahi syafa’atNya.Inilah kami ummatmu; sejenak duduk menyimak sahajamu, mendaras teladanmu, mengkaji sunnahmu, mengittiba’ pengabdianmu.  #Isra'mikraj


fnc muslimah

Terbayang dalam imajinasi saya, bagaimana kata-kata itu terbata-bata keluar dari lisan Rasulullah, dalam rasa takut yang mencekam, dan dada yang sesak, merinding, juga dengan keringat yang menderas, serta wajah yang pucat pasi. Jawaban itu diungkapkan Rasulullah ketika Jibril menemuinya di Gua Hira’ dan berkata kepadanya, “IQRA’! Bacalah!”

“Ma anaa bi qari (aku tak bisa membaca)”

Untuk kedua kalinya Rasulullah memberikan jawaban. Namun Jibril terus mendesak dan memaksa. Didekapnya Rasulullah hingga Rasulullah nyaris kehilangan nafas. “IQRA! Bacalah!”

“Ma anaa bi qari (aku tak bisa membaca)” jawaban Rasulullah tak berubah.

Hingga untuk yang ketiga kali, Jibril kemudian membimbingnya…

"Iqra' bismi rabbikalladzii khalaq. Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam. 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya…” (Al Alaq 1-5)

Sahabat,

Menyimak episode turunnya wahyu Al Qur’an yang pertama itu, semoga kita teringatkan pada satu kata yang seharusnya menggugah dan menggerakkan kita untuk segera beramal. Dan satu kata itu adalah “IQRA! Bacalah!”. Ya. Inilah satu kata yang menjadi wahyu pertama Allah pada Rasulullah. Inilah satu kata yang telah mengubah wajah dunia. “IQRA! Bacalah!”

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka ia akan memperoleh satu kebaikan. Setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf. Tetapi alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf” (HR. Tirmidzi)

Sahabat,

Ribuan huruf menunggu, untuk kita eja. Setiap satu huruf akan memperoleh satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas 10 kali lipat. Dari lafaz basmalah saja, ada 19 huruf akan tereja. Itu berarti ada 190 kebaikan pahala akan kita dapatkan insya Allah. Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang lain? Dalam satu juz Al Qur’an, akan kita temukan sekitar 10 ribu huruf. Bahkan mungkin lebih. Bayangkan! Berapa pahala kebaikan akan kita lewatkan jika kita lalai dari membacanya? Sedangkan kita tahu, Rasulullah telah berpesan, khatamkanlah al Qur’an dalam 30 hari. Itu berarti, dalam sehari paling tidak kita seharusnya membaca satu juz dari Al Qur’an. Maka sesungguhnya, 10 ribu huruf menunggu untuk kita baca setiap harinya. Ribuan huruf menunggu untuk kita eja. Dan ingatlah, di setiap huruf tersimpan 10 kebaikan pahala. Akankah kita menyia-nyiakannya?

“Alif Laam Raa. (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti..” (QS. Hud 1)

Sahabat,

Ribuan huruf menunggu, untuk kita rangkai. Dari huruf-huruf yang terangkai, akan terbaca kalimat-kalimat petunjuk dari Allah, akan terbaca kalimat-kalimat yang terang, kalimat-kalimat yang bercahaya, kalimat-kalimat yang menuntun manusia dari gelap menuju cahaya, kalimat-kalimat yang menerangi hati dalam dada. Tidakkah kita percaya?

“Dia lah yang menurunkan kepada hamba-hambaNya ayat-ayat yang terang (Al Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya…” (Al Hadiid 9)

Sahabat,

Ribuan huruf menunggu, untuk kita senandungkan. Diantara ribuan senandung, saya percaya sahabat semua sepakat, senandung ayat Qur’an adalah senandung yang paling menentramkan, dan paling memberikan ketenangan. Maka senandungkan dengan khusyu’ perlahan. Sebagaimana senandung sahabat Ibnu Mas’ud ra, yang mampu membuat air mata Rasulullah menitik...

Ibnu Mas’ud ra bertutur,

"Rasulullah berkata kepadaku: `Hai Ibnu Mas'ud, bacakanlah Al Qur'an untukku!` Lalu aku menjawab: `Apakah aku pula yang membacakan Al Qur'an untukmu, ya Rasulullah, padahal Al Qur'an itu diturunkan Rabb kepadamu?` Rasulullah menjawab: `Aku senang mendengarkan bacaan Al Qur'an itu dari orang lain.` Kemudian Ibnu Mas'ud membacakan beberapa ayat dari surat An Nisaa'. Maka tatkala bacaan Ibnu Mas'ud sampai kepada ayat 41 yang artinya:

"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul dan nabi) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu);"

sedang ayat itu sangat mengharukan hati Rasulullah, lalu beliau berkata: `Cukuplah sekian saja, ya Ibnu Mas'ud!` Ibnu Mas'ud melihat Rasulullah meneteskan air matanya serta menundukkan kepalanya (HR. Bukhari)

Sahabat,

Jika kita mengaku mencintai Allah, dan jika kita mengaku mencintai Rasulullah, cukuplah itu menjadi alasan bagi kita untuk mencintai Al Qur’an. Dan salah satu tanda cinta itu, adalah dengan senantiasa membacanya. Bacalah surat cintaNya, dan bacalah warisan peninggalan Rasulullah tercinta. Akankah kita biarkan ribuan huruf itu terus menunggu, selamanya hening membisu, diam tak bicara di sudut meja? Belumkah datang saatnya bagi kita untuk tunduk menekuri huruf-huruf dari kalam yang suci?

“Belum kah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka mengingat Allah dan (tunduk) kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan Al Kitab, kemudian berlalu lah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. al-Hadid : 16)

Sahabat,

Ribuan huruf menunggu, untuk kita eja. Maka ejalah dengan gembira. Sungguh di setiap hurufnya tersimpan sepuluh kebaikan pahala…

Ribuan huruf menunggu, untuk kita rangkai. Maka rangkailah menjadi kalimat-kalimat bercahaya penerang hati dalam dada…

Ribuan huruf menunggu, untuk kita senandungkan. Maka senandungkan dengan khusyu’ perlahan, dalam lantunan ayat suci nan menentramkan…

Ribuan huruf menunggu, sampai kapan kita membiarkan mereka menunggu? Adakah kita masih memiliki cukup waktu?



Wallahu a’lam


fnc muslimah
“Saat paling dekat bagi hamba dengan Tuhan nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa ketika kalian bersujud.”

(HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i)

“Tahukah kalian kemanakah matahari itu pergi?”

Seperti halnya saya, saya yakin sebagian Sahabat tercenung dan termenung ketika mendengar pertanyaan ini. Pertanyaan inilah yang suatu kali diungkapkan Rasulullah pada para sahabatnya ketika matahari terbenam di suatu petang. Jawaban para sahabat kala itu, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.”

Kemudian Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy,”

Rasulullah melanjutkan, “lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.”

Sampai pada penggal ini, Rasulullah kemudian bertanya pada para sahabat, “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi?”

Dan Rasulullah menjawab sendiri pertanyaan itu, “Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”(HR. Bukhari Muslim)

Sahabat,

Mengawali tulisan ini dengan hadits diatas, saya tidak bermaksud memasuki perdebatan panjang yang masih diperselisihkan antara teori ‘bumi mengelilingi matahari’ dengan teori ‘matahari mengelilingi bumi’. Saya merasa tidak memiliki kapasitas ilmu dalam hal itu. Yang ingin saya sampaikan lewat hadits itu adalah sebuah kebenaran yang disampaikan Rasulullah -yang sampai saat ini masih membuat saya tertakjub-takjub- yakni bersujudnya matahari di bawah ‘Arsy Allah. Ya, matahari bersujud pada Allah. Dari sinilah kita akan berbincang lebih jauh setelah ini…



“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? … “ (Al-Hajj 18 )



Sahabat,

Bersujud matahari dengan cara yang tak kita mengerti. Bersujud pula rembulan dengan cara yang tak mampu kita bayangkan. Dan bersujud seluruh semesta dengan keteraturan yang tak terkira. Tunduk dan patuh mereka pada Allah. Baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. Bersujud pula bayang-bayang mereka di pagi dan petang hari…

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari”. (Ar-Ra’d 15 )

Sahabat,

Jika matahari, bulan, dan bintang-bintang bersujud pada Allah, tunduk dan patuh pada Allah, pantaskah kita manusia yang begitu lemah ini menolak bersujud pada Allah? Jika kita tak lebih digdaya dari matahari, tak lebih perkasa dari bulan, dan tak lebih hebat dari bintang-bintang, dengan alasan apakah kita menolak bersujud pada Allah? Bukankah Allah Maha Besar lagi Maha Perkasa?

Lalu,

Adakah kita mengaku sebagai hamba Allah yang beriman, yang tak hendak sombong kepadaNya, sedangkan kita mengingkari perintah bersujud di masjid-masjid Allah itu? Adakah kita juga mengaku sebagai hamba berbakti, yang tak hendak sombong kepadaNya, sedangkan kita melalaikan perintah bersujud di rumah-rumah Allah itu?



Sahabat,

Sungguh, tidak ada yang menghalangi iblis memenuhi perintah Allah untuk sujud kepada Adam, kecuali kesombongan dalam dirinya. Ya, dosa kesombongan. Inilah dosa iblis yang membuatnya menerima murka Allah dan terusir dari surga…

“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan” (QS. Shaad 75-78)

Walau hanya setitik, sungguh tidak ada tempat di surga bagi hamba-hamba Allah yang sombong… Astaghfirullah…

Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang dalam hatinya terdapat setitik kesombongan. (HR Muslim)

Sahabat,

Maka menjadilah kita bagian dari orang-orang yang memperbanyak sujud pada Allah. Mereka yang melewati waktu di dunia dengan memperbanyak sujud, maka tanda bekas sujud akan kita temukan di wajah mereka. Namun tanda bekas sujud itu, bukan dahi yang hitam atau kasar sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang selama ini.. Melainkan wajah yang teduh, tawadlu, dan bercahaya.. Pendapat inilah yang yang dapat kita telusuri dalam tafsir Ibnu Katsir..wallahu a’lam..

“.. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak di wajah mereka dari bekas sujud..” (Al Fath 29)

Sahabat,

Mereka yang ahli sujud, adalah mereka yang memiliki hati yang peka dan perasaan yang halus. Di setiap kali mendengar ayat-ayat Qur’an, mendengar nasehat, atau melihat segala hal yang mengingatkan pada akhirat, hal itu memberikan pengaruh yang begitu dahsyat pada diri mereka…

“..Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`” (Al Isra’ 107-109)

Adegan dalam ayat ini, adalah adegan yang sungguh menyentuh perasaan, demikian Sayyid Quthb menguraikan dalam tafsirnya. Yakni adegan orang-orang yang diberi ilmu. Ketika mendengar Al Qur’an, mereka khusyuk dan menjatuhkan diri karena sujud. Mereka tidak mampu mengendalikan diri mereka. Mereka bukan ‘sekedar’ sujud, tetapi menjatuhkan diri ke kening untuk sujud. Lalu lidah mereka bereaksi mengucapkan apa yang berkecamuk di perasaan mereka, “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi..”. Kepekaan hati mereka begitu kuat, perasaan mereka begitu halus. Dan kata-kata tidak cukup merefleksikan apa yang bergejolak di hati mereka. Maka air mata pun mengucur deras, menggambarkan kepekaan dan halusnya perasaan mereka…

“.. Dan mereka menjatuhkan diri ke kening mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk..” (Al Isra’ 109)

Sahabat,

Bersujud matahari dengan cara yang tak kita mengerti. Bersujud pula rembulan dengan cara yang tak mampu kita bayangkan. Dan bersujud seluruh semesta dengan keteraturan yang tak terkira.. Masing-masing telah mengetahui cara sujudnya pada Allah. Maka semoga demikian pula dengan kita. Rebahkanlah kesombongan kita dan merendahlah. Letakkan dahi merapat ke bumi, bersujud memohon ampun dan meng-eja pinta kepadaNya. Semoga Dia berkenan Mendengar do’a kita, meski kadang kita lalai dari mendengar titahNya…

“Saat paling dekat bagi hamba dengan Tuhan nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa ketika kalian bersujud.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i)

Dan sungguh, sujud-sujud kita di masjid-masjid Allah itu, di rumah-rumah Allah itu, adalah sebagai bentuk pengakuan kita, bahwa kita tak layak sombong pada Pemilik ‘Arsy, Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar…



fnc muslimah



Saya mendatangi seorang guru yang bijak. Tapi guru ini rumit sekali, ilmu yang dibagikan olehnya selalu tidak langsung, penuh teka-teki dan perumpamaan. Padahal saya datang hanya untuk sebuah pertanyaan. Saya bilang, "Guru, bagaimana agar saya merasa cukup?"

Saya mengeluh dalam hati, ini akan jadi percakapan yang sulit, lihatlah, guru hanya menatap lamat-lamat.

"Guru, bagaimana agar saya merasa cukup?" Saya mengeraskan suara, takut sebelumnya tidak didengar.

Guru hanya menatap datar, seolah tidak mendengar, seolah tidak memperhatikan. Saya menyeka dahi yang berkeringat, bergumam dalam hati, memangnya saya batang pisang.

Tapi sebelum saya mengulang pertanyaan ketiga kalinya, guru akhirnya buka suara.

"Kau sungguh bertanya, atau sekadar basa-basi saja?"

Ya ampun, guru, saya menghabiskan waktu berhari2 hanya untuk menemuinya. Tentu saja saya sungguh bertanya. Memangnya ini sejenis tinggal kirim email, kirim surat, mudah sekali bertanya. Saya menemuinya lewat perjalanan panjang dan tidak murah.

Saya mengangguk mantap. Bergegas mengusir hendak berseru barusan.

"Baik. Maka akan aku berikan sebuah tugas sederhana." Guru mengangguk.

Saya semangat. Ini pasti sejenis tugas menantang sebelum guru bersedia menjawab. Sebuah tugas untuk pembuktian kalau saya sungguh2 memang bertanya. Bukan sekadar pertanyaan basa-basi: habis bertanya, dapat jawaban, mengangguk sebentar sok paham, lantas lupakan. Ini sungguh sebuah pertanyaan, yang jawabannya akan digigit hingga mati.

Guru menatapku tajam kali ini, suaranya lebih berat dan serius, "Nah, tugasnya adalah kau cari cara bagaimana mengeringkan sumur tua di komplek sekolah ini. Keringkan."

Well yeah, itu mudah, guru. Saya nyengir. Maka pertemuan itu selesai untuk sementara waktu. Besok pagi-pagi saya mulai mencari ember, mencari tali, lantas disaksikan beberapa murid guru lainnya, mulai menimba sumur tua itu, mengeluarkan seluruh isi sumur. Itu sumur tua, bau airnya, bahkan ada bangkai tikus di dalamnya. Tapi tidak mengapa, itulah poin penting tugas ini. Seharian penuh saya melakukannya. Selesai. Sorenya, bergegas menghadap guru, dengan badan penuh keringat, lumpur, dan bau.

Guru menggeleng. Saya menepuk dahi, menyesal terlalu cepat berpuas diri. Tentu saja tidak hanya satu tugas, pasti ada tugas berikutnya. "Kau keringkan rawa-rawa di belakang komplek sekolah. Habisi airnya. Itu tugas kedua. Kembali setelah selesai." Saya mengeluh dalam hati, itu tidak semudah mengurus sumur tua.

Besok pagi-pagi sekali, saya membawa seluruh peralatan yang tersedia. Rawa-rawa itu luasnya hampir satu hektar, ini tidak akan mudah dilakukan meski dengan bantuan selang-selang, pompa. Rawa-rawa itu dipenuhi nyamuk, serangga, ular berbisa, dan perdu berduri. Itu sumber penyakit bagi kampung. Berkubang mengeringkan rawa lebih sulit dibanding sumur tua. Butuh tiga minggu lebih hingga akhirnya semua air berhasil dikeluarkan. Ditambah harap-harap cemas kalau hujan turun.

Persis hari ke-27, setelah bekerja keras sepanjang hari, rawa-rawa itu kering. Saya bergegas menemui guru, dengan tubuh belepotan kotor. Kali ini, saya berhak atas jawaban tersebut. Benar-benar berhak. Itu bukan tugas sepele. Sial. Guru tetap menggeleng. Saya benar-benar mengeluh dalam. Ini serius sekali ternyata. Pertanyaan sederhana itu ternyata amat mahal harganya. "Kau keringkan danau di dekat kampung. Habisi airnya."

Ya ampun? Danau? Saya tidak sempat bertanya, protes, atau apalah. Saya sudah terduduk lesu. Murid-murid lain menatap prihatin, tapi mereka tidak berkomentar.

Besok pagi-pagi sekali, saya mendatangi danau itu. Luasnya sebelas hektar, menurut informasi penduduk setempat, dalamnya bisa mencapai sebelas meter. Astaga, ini tugas gila, bagaimana saya harus mengeringkan danau ini? Berhari-hari memikirkan caranya. Bermalam-malam mencari tahu bagaimana. Tidak ada solusinya, dengan ratusan pompa sekalipun, tdk mudah mengeringkan danau tersebut. Mata airnya menyembur dari mana-mana, banyak sungai bermuara ke dalamnya, meski ditutup sungai2 itu, tetap tidak mudah.

Di hari ke-7, saya menyerah, saya menemui guru.

"Saya tidak ingin lagi jawaban pertanyaan itu." Saya berkata pelan. Menunduk, "Saya mau pulang."

Guru tersenyum--untuk pertama kalinya.

"Kau sudah mendapatkan jawabannya, anakku."

Aku mengangkat kepala. Mulai jengkel, hei, dimana jawabannya? Sebulan lebih tinggal di sekolah itu, saya bahkan hanya disuruh jadi kuli. Menguras sumur tua, mengeringkan rawa-rawa.

Guru mengangguk, "Kau sudah mendapatkan jawabannya, anakku. Baiklah, akan aku jelaskan. Bukankah kau bertanya bagaimana merasa cukup, bukan? Maka anakku, kau bahkan tidak bisa mengeringkan danau itu. Padahal itu hanya tugas nomor dua paling sulit."

Nomor dua paling sulit? Memangnya ada tugas yang lebih sulit?

"Ada, mengeringkan lautan. Seluruh lautan di dunia ini, anakku. Apakah kau bisa mengeringkan seluruh lautan?"

"Itu mustahil!" Aku berseru.

Guru tertawa kecil, "Tentu saja tidak. Itu pekerjaan yang mudah saja. Bagaimana cara mengeringkan seluruh lautan? Maka jawabannya, kau jadikan airnya sebagai tinta untuk menulis seluruh nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Bahkan habis sudah air lautan, tidak akan cukup untuk menuliskannya. Udara yang kau hirup. Kesehatan yang kau dapat. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kaki untuk melangkah. Tidak akan cukup untuk menulis seluruh nikmat Tuhan tersebut."

"Itulah jawabannya, anakku. Kau mudah saja mengeringkan sumur, kau juga keras kepala bisa mengeringkan rawa-rawa. Mungkin juga bisa mengeringkan danau jika diberikan peralatan raksasa, tapi kau ternyata tidak bisa mengeringkan lautan. Padahal apalah artinya seluruh lautan di dunia ini dibanding nikmat Tuhan. Maka, apakah kau sekarang bertanya bagaimana merasa cukup? Kau sudah mendapatkan jawabannya. Tinggal sekarang dipikirkan. Direnungkan. Sekali kau paham, gigitlah pemahaman itu hingga mati."

Aku menatap tikar pandan yang kududuki. Terdiam hingga matahari tumbang di kaki langit sana.

source: Tere liye
Label: 0 komentar |
fnc muslimah


Suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Menjelang diturunkan dia bertanya kepada Tuhan,

“Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah,” kata si bayi..

Tuhan menjawab,”Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu”

“Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagi saya untuk bahagia.”demikian kata si bayi.

Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia”

Si bayipun bertanya kembali,”Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu?”

Sekali lagi Tuhan menjawab,”Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa”

Si bayipun masih belum puas, ia pun bertanya lagi,” Saya mendengar di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?”

Dengan penuh kesabaran Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun.”

Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaanya,” Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi”

Dan Tuhanpun menjawab,” Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesunggugnya Aku selalu berada di sisimu”

Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya,”Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?”

Tuhanpun menjawab “Kamu dapat memanggil malaikatmu….IBU…”

Sahabat Hikmah....
Kenanglah Ibu yang menyayangimu
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…

Ingatkah engkau? ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu?

ingatkah engkau? ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu? dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan,

kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.

simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang

segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut

jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang. ketika ibu telah tiada…..

tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita
tak ada lagi senyuman indah, tanda bahagia
yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya,
yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan, tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit
tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendoakanmu disetiap hembusan nafasnya

Kembalilah segera..peluklah ibu yang selalu menyayangimu..
ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.

Saudara2ku, berdo’alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya jangan biarkan engkau menyesal di masa datang kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu..
kenanglah semua-cinta dan kasih sayangnya….
Ibu maafkan aku, sampai kapanpun jasamu tak akan terbalaskan…

fnc muslimah


Sebuah kisah nyata penggugah hati, terjadi tahun 2005..dari seorang pengusaha di Jakarta yg merahasiakan identitasnya. Ketika dia koma di rumah sakit diantara hidup dan mati. Setelah siuman dan sadar, beberapa hari sesudahnya dia menceritakan hal ini.

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, “aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".


Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhanmu rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"


Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, " Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau  ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."

Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya.. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".
Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata," Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. "Benar, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. "

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. "

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

Terima kasih

Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan phisiknya,tapi dari kekuatan hatinya. Katakan ini dengan pelan, "Ya ALLAH, hamba mencintai-MU dan membutuhkan-MU, datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!".



Sumber: Page Rahasia Rejeki, Jodoh, dan Mati.


Label: 0 komentar |
fnc muslimah



Kawan, jangan habiskan air mata menangisi seseorang
yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita

Jangan habiskan waktu memikirkan seseorang
yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita

Hidup ini memang kadang ganjil sekali,
Ada milyaran orang, tapi kita menambatkan hati
Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja

Hidup ini memang kadang rumit sekali,
Ada banyak hari esok, tapi kita tidak beranjak
Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam

Aduhai, hidup ini memang kadang menyebalkan sekali,
Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja
Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik
Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar.

Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.

*sumber : tereliye
fnc muslimah
* Kisah obrolan antara orang gila yang alim dan Abid (ahli ibadah) yang shalih.

Di suatu negeri, hiduplah seorang abid yang selalu bermunajat kepada Allah Ta’ala di setiap hari-harinya. Apabila dia ingat atas dosa-dosanya yang telah lalu, tak jarang dia menangis tersedu-sedu sehingga air matanya membasahi hampir sebagian baju yang dikenakannya. Maklum saja, abid tersebut dulunya adalah seorang yang pernah hidup di lembah hitam yang sudah barang tentu, beraneka macam bentuk kemaksiatan sudah pernah dicicipinya.

Suatu hari, ketika abid tersebut sedang asyik dalam munajatnya dan menangis tersedu-sedu sehingga air matanya membasahi kedua pahanya, lewatlah orang gila melintasi tempat di dekat ahli ibadah tersebut bermunajat.
Dalam munajatnya, abid tersebut berkata:

“Wahai Tuhanku…janganlah masukkan aku ke neraka”.

“Belas kasihanilah aku…bersikap lembutlah kepadaku wahai Tuhanku”.

“Wahai Dzat yang Maha Rahman dan Rahim…jangan siksa aku dengan neraka-Mu”.

“Aku ini sangat lemah wahai Tuhanku…aku pasti tidak akan kuat bertempat di neraka-Mu…oleh karena itu, kasihanilah aku wahai Tuhanku”.

“Wahai Tuhanku…Kulitku ini sangat lembut, pasti tidak akan kuat menahan api neraka-Mu. Oleh karena itu wahai Tuhanku…Kasihanilah aku”.

“Wahai Tuhanku…tulangku sangat rapuh, tidak akan kuat menahan siksaan neraka-Mu, oleh karena itu wahai Tuhanku…Kasihanilah aku”.

Mendengar ucapan abid yang sedang bermunajat tersebut, orang gila yang sedang melintas tadi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras sekali.

Ha ha ha ha ha ha…!!

Karena merasa dilecehkan, sambil melotot abid tadi berkata:

“Wahai orang gila…apa yang sedang kamu tertawakan??!!”.

Dengan terkekeh orang gila tadi menjawab:

“Ucapan dalam munajatmu tadi sungguh membuatku tergelitik untuk tertawa”.

Abid menimpali:

“Ucapanku yang mana yang membuatmu tertawa wahai orang gila??!”.

Orang gila tadi menjawab:

“Engkau menangis karena takut dengan neraka…itulah yang membuatku tertawa terbahak-bahak!!”

Abid berkata:

“Apakah engkau tidak takut dengan neraka wahai orang gila??!”.

Sambil kembali tertawa terbahak-bahak orang gila tersebut menjawab:

“Ha ha ha ha ha….Sedikit pun aku tidak takut dengan yang namanya neraka”.

Abid berkata:

“oowwhh….benar, engkau memang benar-benar gila!!”.

Sambil sedikit menahan tawa, orang gila tadi menjawab:

“Kenapa engkau takut dengan neraka wahai abid, sedangkan engkau memiiliki Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim??!, yang rahmat-Nya lebih luas dari apapun juga!!”.

Dengan agak takjub dengan ucapan orang gila tadi, abid tersebut menjawab:

“Sesungguhnya aku memiliki dosa yang apabila Allah Ta’ala meminta pertanggung jawaban kepadaku dengan keadilan-Nya, niscaya Allah akan memasukkan aku ke neraka”.

“Oleh karena itu aku menangis wahai orang gila…itu semua aku lakukan agar Allah Ta’ala berbelas kasihan kepadaku, mengampuni dosa-dosaku, tidak meminta pertanggung jawaban kepadaku dengan keadilan-Nya, tetapi dengan keutamaan dan kelembutan-Nya, sehingga Dia tidak memasukkan aku ke dalam neraka-Nya”.

Ha ha ha ha ha ha….!!

Mendengar jawaban abid yang sangat memilukan dan terkesan memelas tersebut, orang gila tadi kembali tertawa terbahak-bahak dengan suara yang lebih keras lagi.

Dengan kesal abid tersebut berkata:

“Apa yang engkau tertawakan wahai orang gila??!”.

Masih dalam kedaan terkekeh, orang gila tadi menjawab:

“Wahai abid…engkau memiliki Tuhan Yang Maha Adil yang tidak akan pernah berkhianat, tetapi engkau malah takut kepada-Nya”.

“Engkau memiliki Tuhan yang Maha Rahman, Maha Rahim, Maha menerima taubat…tetapi engkau malah takut dengan nerakanya”.

Sambil agak bingung dengan pernyataan orang gila tadi, abid tersebut berkata:

“Apakah engkau tidak takut pada Allah Ta’ala wahai orang gila??!”

Dengan sedikit tertawa orang gila tersebut menjawab:

“Iya…aku takut kepada Allah Ta’ala, tetapi takutku kepada-Nya bukan karena neraka-Nya”.

Mendengar jawaban orang gila tersebut, abid tadi bingung dan tidak habis pikir, kemudian bertanya:

“Jika engkau tidak takut dengan neraka-Nya, lalu apa yang membuatmu takut kepada Allah Ta’ala??!!”.

Tiba-tiba dengan mimik muka yang cukup serius, orang gila tadi menjawab:

“Yang aku takutkan adalah ketika nanti aku bertemu dengan Tuhanku dan Dia menanyaiku…wahai hamba-Ku, kenapa engkau bermaksiat kepada-Ku??!”.

“Jika saja aku ditakdirkan menjadi calon penghuni neraka, aku sangat berharap supaya aku dimasukkan neraka tanpa dihadapkan kepada-Nya dan ditanyai terlebih dahulu”.

“Api neraka lebih ringan menurutku dari pada harus menjwab pertanyaan Allah Ta’ala…aku pasti tidak akan mampu memandang-Nya dengan pandangan seorang pengkhianat ini, serta menjawab pertanyaan-Nya dengan mulut seorang penipu ini”.

“Jika saja dengan dimasukkannya aku ke neraka, itu semua membuat kekasihku ridlo kepadaku…maka dengan senang hati aku menerimanya”.

Kemudian dengan suara pelan dan masih dengan mimik muka serius, orang gila tadi kembali berkata:

“Wahai abid…maukah kamu aku beri tahu sebuah rahasia, tetapi jangan engkau bocorkan rahasia ini kepada siapapun??!”.

Dengan mimik muka bingung, abid tersebut menjawab:

“Apa rahasia tersebut wahai orang gila??!”.

Dengan agak berbisik orang gila tersebut menjawab:

“Taukah kamu wahai abid, bahwasanya Tuhanku tidak akan pernah memasukkan aku ke neraka…taukah kamu kenapaa!!”

Dengan terkejut dan bingung abid tadi berkata:

“Loh….kok bisa begitu wahai orang gila??!”.

Dengan tenang dan tatapan mata menerawang jauh, orang gila tersebut menjawab:

“Itu semua disebabkan karena aku beribadah kepada-Nya dengan dasar cinta dan rindu, sedangkan engkau wahai abid, engkau beribadah kepada-Nya dengan dasar takut serta tamak akan surga-Nya”.

“Persangkaanku kepada-Nya lebih baik dari pada persangkaanmu…harapanku kepada-Nya lebih baik dari pada harapanmu”.

“Oleh karena itu wahai abid, perbaikilah harapanmu kepada Tuhanmu dengan sebaik-baik harapan”.

“Taukah engakau wahai abid…dulu ketika Musa alaihissalam melihat api di gunung Thursina lalu mendatanginya dengan harapan mendapat sedikit kehangatan dari api tersebut, ia kembali menjadi seorang Nabi, dan aku…aku pergi menuju Tuhanku dengan membawa cinta dan rindu untuk melihat keindahan-Nya, maka aku kembali sebagai orang gila”.

Setelah berkata demikian, tiba-tiba orang gila tersebut kembali terawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan abid begitu saja. Dan dengan dihinggapi rasa takjub yang luar biasa atas ucapan orang gila tadi, sambil kembali menangis abid tersebut berkata:

“Subhanallah…orang gila tadi adalah bukan orang sembarangan, dia adalah paling cerdas-cerdasnya orang yang pernah aku temui sepanjang hidupku”.

Label: 0 komentar |
fnc muslimah
Ada seorang hamba Allah, beliau rajin sholat malam dan bermunajat, berkhalwat dengan Al-Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi janggutnya, beliau berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan. Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung jua permintaan beliau dikabulkan oleh Allah.

Permintaannya (diantaranya) adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar untuk berusaha memperoleh rizki Allah tapi tidak tampaklah dilapangkan rizqi itu untuknya.

Padahal dahulu, KETIKA IA MASIH BEKERJA MENJADI PETUGAS BEA CUKAI, UANG DAN KESENANGAN ADALAH KAWAN AKRAB. Hingga suatu saat ia mendengarkan ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan selama ini adalah Haram dan tidak membawa keberkahan, kelak penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa dibantah lagi di akhirat. Bergetar hatinya, maka masuklah hidayah Allah atasnya.

Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah, agar diberikan harta yang halal dan rizqi yang lapang dalam menjalani hidup ini.

Namun berangsur-angsur seakan terkena kualat (karena meninggalkan perbuatan haram itu), PENGHASILANNYA SEMAKIN MENURUN, BELIAU SEKELUARGA SERING SAKIT DAN MENJADIKAN BADANNYA YANG SEHAT MENJADI KURUS. ANAK SATU-SATUNYA MENINGGAL SETELAH MENJALANI PERAWATAN SELAMA BEBERAPA MINGGU DIRUMAH SAKIT.

Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya. Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu ia mendekatkan diri kepada Allah. Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya, korupsi yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan beberapa orang rekannya terkena pemecatan dengan tidak hormat.

Subhanallah, semakin berat rasanya hidup ini baginya. Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan Rabbnya, menangis dan perih rasa batinnya.

Setiap dalam sedihnya ia berdoa, selalu ada bisikan lirih di hatinya, "Apa yang engkau harapkan itu dekat sekali, bila engkau bertaqwa!". Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya. Kini setelah ia dipecat, ia berdagang. Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakin bertumpuk, musibah yang seakan tidak berujung .. ahhhhh…

Setelah puluhan tahun kedepan sejak ia dekat dengan Allah setiap malamnya,tidak juga merobah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar bisikan diatas, tidak juga tampak yang dijanjikanNya. Mulailah timbul pemikiran yang tidak baik dari Syaithon. Hingga beliau berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridho terhadap doanya selama ini.

Maka pada malam harinya, ia berdoa kepada Allah :

"WAHAI ALLAH YANG MENCIPTAKAN MALAM DAN SIANG, YANG DENGAN MUDAH MENCIPTAKAN DIRIMU YANG SEMPURNA INI. KARENA ENGKAU TIDAK MENGABULKAN PERMINTAANKU HINGGA SAAT INI, MULAI BESOK AKU TIDAK AKAN MEMINTA DAN SHOLAT LAGI KEPADAMU, AKU AKAN LEBIH RAJIN BERUSAHA AGAR TIDAKLAH HARUS BERALASAN BAHWA SEMUA TERGANTUNG DARIMU. MAAFKAN AKU SELAMA INI, AMPUNI AKU SELAMA INI MENGANGGAP BAHWA DIRIKU SUDAH DEKAT DENGANMU !"

Beliau tutup doa dengan perasaan berat yang semakin dalam dari awal ia berniat seperti itu (’mengkhatamkan’ ibadah sholat lailnya). Beliau berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak mengetahui kapan ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa bersalah. Seakan ia melihat suatu padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan, dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq cahaya duduk diatas betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak mampu… kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah.

Beliau hanya dapat melihat para makhluq yang duduk dihadapan Sesuatu Yang Maha Dahsyat. Terdengar olehnya suara pertanyaan, "BAGAIMANA HAMBAKU SI FULAN, HAI MALAIKATKU ?" nama yang tidak dikenalnya.

Seorang berdiri dengan tubuh gemetar karena takut, dan bersuara dengan lirih, "Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hambaMu itu.

Dia mengatakan demikian : "Wahai Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah menciptakan dirimu yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah terus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Maafkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !"

Ampuni dia yaa Al ‘Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!"

Tersentak beliau, itu. … kata-kataku semalam … celaka, pikirnya. Kemudian terdengar suara lagi :

"Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpendam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang gemetar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan pemintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak Aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering Aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan.

Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat Kuberi ia cobaan tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya.

Aku rindu kepadanya… rindukah ia kepadaKu, hai malaikat-malaikatKu ?"

Suasana hening, tak ada jawaban. Menyesallah beliau atas pernyataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. "Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku yaa Robbi, maafkan kata-kataku !" semakin takut rasanya ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya.

Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii…

Segeralah ia berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu’, kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al-Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya.

"…Yaa Allah, Yaa Robbi jangan engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan berlumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal Engkau tidak membenciku aku rela…Yaa Allah, aku rindu padaMu…_"


sumber:facelim/astia
fnc muslimah

Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar...............
Siapakah orang yang kaya?

Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.......
Siapakah orang yang miskin?

Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada serta selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kiikir juga dengki...........
Siapakah orang yang rugi?

Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah..............

Siapakah orang yang paling cantik?

Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda.............................

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?

Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...............

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?

Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia............
Siapakah orang yang mempunyai akal?

Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya..............

Label: 0 komentar |
fnc muslimah
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah saw. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.

Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah : "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh." Wanita tua : "Salaamun qoulan min robbi rohiim." (QS. Yaasin : 58) ("Salam sebagai ucapan dari Tuhan maha kasih")

Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?"
Wanita tua : "Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu." (QS : Al-A'raf : 186 ) ("Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")

Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

Abdullah : "Kemana anda hendak pergi?" Wanita tua : "Subhanalladzi asra bi 'abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa." (QS. Al-Isra' : 1) ("Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa")

Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.

Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini?" Wanita tua : "Tsalatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10) ("Selama tiga malam dalam keadaan sehat")

Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?"

Wanita tua : "Huwa yut'imuni wa yasqiin." (QS. As-syu'ara' : 79) ("Dialah pemberi aku makan dan minum")

Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu?" Wanita tua : "Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha'idan thoyyiban" (QS. Al-Maidah : 6) ("Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih")

Abdulah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?"

Wanita tua : "Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil." (QS. Al-Baqarah : 187) ("Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam")

Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?"

Wanita tua : "Wa man tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim." (QS. Al-Baqarah : 158) ("Barang siapa melakukan sunnah lebih baik")

Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?"

Wanita tua : "Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS. Al-Baqarah : 184) ("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui")

Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?"

Wanita tua : "Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun 'atiid." (QS. Qaf : 18) ("Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid")

Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?"

Wanita tua : "Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam'a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas'ula." (QS. Al-Isra' : 36) ("Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan")

Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."

Wanita tua : "Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum." (QS.Yusuf : 92) ("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu")

Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan."

Wanita tua : "Wa maa taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197) ("Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya")

Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :"Qul lil mu'miniina yaghdudhu min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")

Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap :

"Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-Syura' 30) ("Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")

Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."

Wanita tua : "Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79) ("Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman")

Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.

Abdullah : "Silahkan naik sekarang."

Wanita tua : "Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun." (QS. Az-Zukhruf : 13-14) ("Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami")

Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita itu berkata :

"Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19) ("Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu")

Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap :

"Faqraa-u maa tayassara minal qur'aan" (QS. Al- Muzammil : 20) ("Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")

Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."

Wanita tua : "Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh : 269) ("Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")

Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya : "Apakah anda mempunyai suami?"

Wanita tua : "Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101) ("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu")

Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"

Wanita tua : "Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS. Al-Kahfi : 46) ("Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia")

Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.

Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?"

Wanita tua : "Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl : 16) ("Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")

Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.

Abdullah : "Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?"

Wanita tua : "Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125) ("Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi")

"Wakallamahu musa takliima" (QS. An-Nisa' : 146) ("Dan Allah berkata-kata kepada Musa")

"Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. Maryam : 12) ("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

Wanita tua : "Fab'atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi : 19) ("Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu")

Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :"Kuluu wasyrobuu hanii'an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah" (QS. Al-Haqqah : 24) ("Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu")

Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya."

Ketiga anak muda ini secara serempak berkata : "Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, karena kuatir salah bicara."

Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap : "Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21) ("Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar")





fnc muslimah

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku.

Dengan wudhu aku kau sentuh dalam keadaan suci.


Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari.

Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari.

Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.

Sekarang engkau telah dewasa...

Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...

Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...

Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu.

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?


Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya.
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu.

Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa.

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan.

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian.

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.


Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman.

Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu disurau.....

Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV.


Waktu senggang…engkau sempatkan membaca buku karangan manusia.

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.

Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...

Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah-surahku (Basmalah).


Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi.

Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu.

Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu.

Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku.

Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.


Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu.

Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun.

E-mail temanmu yang ada ayat-ayatku pun kadang kau abaikan.

Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.

Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV.


Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk.

Waktupun cepat berlalu... aku menjadi semakin kusam dalam lemari.

Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu.

Seingatku hanya awal Ramadlan engkau membacaku kembali.

Itupun hanya beberapa lembar dariku.

Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu.

Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

Apakah Koran, TV, radio, komputer, dapat memberimu pertolongan?


Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba.

Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya.

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.


Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...

Setiap saat berlalu... kuranglah jatah umurmu...

Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu.

Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu.

Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.


Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...

Di kuburmu nanti....

Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan.

Yang akan membantu engkau membela diri.

Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu.

Dari perjalanan di alam akhirat.

Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu.

Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.


Peganglah aku lagi... bacalah kembali aku setiap hari.

Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci.

Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.


Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...

Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu.

Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu.

Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.

Sentuhilah aku kembali...

Baca dan pelajari lagi aku...

Setiap datangnya pagi dan sore hari.

Seperti dulu....dulu sekali...

Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos...

Di surau kecil kampungmu yang damai.


Jangan aku engkau biarkan sendiri...

Dalam bisu dan sepi....

Maha benar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.


Sumber : oleh Astia - أستي نور الجنة facelim